GILA!! Sudah sampai saja di bulan ketiga tahun ini. Sama sekali tidak menyadari mengapa begitu cepatu waktu maju, lebih cepat dari kumis dan jenggot yang baru dipotong. Masih tertulis di benakku walaupun sudah mulai pudar, banyak titik - titik yang ingin ku capai sehingga nanti akan menggambarkan garis panjang kehidupan. Jika saat ini ada yang bertanya sudah berapa panjang garis itu, Aku akan menjawab "tidak lebih panjang dari rambut seorang perempuan Indonesia." Tidak jelek menurutku. Sebenarnya ketika Aku membuka halaman dan menulis ini, Aku berniat untuk tidak menceritakan apapun tentang diriku. Memang ini bukuku, ini halamanku, ini jemariku, tapi ini tidak melulu tentangku yang menghabiskan waktu di kursi empuk nan rupawan, menunggu datangnya senja lalu kembali pulang mencoba merakit puzzle otakku, mengingat apa sebenarnya hasratku. Oh maafkan Aku kawan, sudah tersebutkan. Lebih baik ku lanjutkan.
Bulan ini kulkas di rumahku kosong, tidak seremah pun tertinggal selain remah es batu. Tau mengapa? Aku yang mengosongkannya kemarin. Aku lelah dengan tempat tidurku yang panas dan bau tembakau. Aku mau selalu dingin di tengah isu global warming yang Aku sendiri sudah tak ingin peduli. Kamarku sesak! Setiap malam belasan orang datang, berkumpul, tertawa, bernyanyi dan berdansa. Bahkan lebih sempit dari semua ruang penjara yang ada di negara ini.
Bak mandiku bocor karena semen penahannya sudah berjamur. Mungkin dulu kualitasnya tidak sebagus saat ini. Tapi ini berbeda dengan rambut. Belum pernah ku lihat rambut perempuan saat ini, sehitam dan selebat rambut Ibuku, perempuan 1963. Dewasa ini perempuan terbelalak dengan fatamorgana kehitaman dan kelebatan rambut. Bukan masalah besar selama kalian tidak terperangkap di dalamnya. Seperti terperangkap dalam kemacetan senayan, bisa habis semua bulu di kepala.
Mobilku rusak lagi, entah apa sekarang yang merusaknya. Tetapi Aku tidak percaya jika ternyata yang melakukan adalah gerombolan anak bocah kecil yang basah karena Tuhan menangis lagi. Tuhan sedih cintaNya tak berbalas, tak satupun. Sang Kekasih tak mampu menjaga keindahan kembang - kembangNya. Tak kuat menahan gempuran penguasa hingga hancurlah pagar - pagar besi tata negaraNya. Sang Kekasih juga tak berdaya melawan perompak, tak berdaya hingga mengorbankan cintaNya.
Tuhan sedih wahai Maret...
Wednesday, March 6, 2013
Wednesday, February 27, 2013
Hujan
Sudah begitu lama sejak badai musim ini reda
Sejak air membawa serta tanah dan batu untuk melawan manusia
Sekarang daun - daun sudah tumbuh kembali
Pertanda tanah dan batu rela mengalah disinari mentari
Bertumpuk bait masih menggantung di dahi
Letupan kata dalam frase dan semangat
Hilang seketik diserbu hitam yang pekat
Habis terkikis tali - tali yang tidak berarti
Binatang tertawa, binatang bercinta
Air langit turun membasahi khalifahnya
Menghapus bersih semak luka dan angkara
Mengalir, mengalir dan mengalirlah
RGB Class
12.12 WIB
Monday, February 11, 2013
A Lyrical
I know this is never be my pleasure to write something like this, song lyric, someone poems and else. BUT, this is not be just a song for me. Its better be my feeling that i can't never sing. If I have to say the words about him, maybe this is it. This is a song from Cat Stevens - Father & Son, who covered by Johnny Cash & Fiona Apple
It's not time to make a change,
Just relax, take it easy.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.
I was once like you are now, and I know that it's not easy,
To be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you've got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.
How can I try to explain, when I do he turns away again.
It's always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.
It's not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
if you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.
All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
It's hard, but it's harder to ignore it.
If they were right, I'd agree, but it's them you know not me.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.
Rgb Digital Imaging
15.06 WIB
Saturday, February 9, 2013
Kaca
Aku lupa kapan pertama kali Aku menyadari bahwa Aku seorang anak laki- laki yang mempunyai cita - cita. Ketika duduk di Sekolah Dasar sebuah kota kecil Aku ingat betul Aku tidak ingin menjadi apa - apa selain seperti dia, bapakku. Menjadi seorang pekerja keras di sebuah perusahaan yang keras. Bekerja dari Pagi sampai sore atau sore hingga tengah malam dan terkadang dimulai saat hari mulai menghitam sampai matahari akhirnya bersinar lagi. Terlihat sempurna untukku saat itu. Namun semuanya berbeda ketika aku memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama.
Aku mengenal musik sejak telingaku bahkan belum bisa menyadarkan panggilan kedua orang tuaku. Sejak telingaku bahkan belum tergerak sedikitpun ketika guruku berbicara tentang bagaimana Jendral Soedirman memimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tapi Aku sudah bisa mendengarkan alunan musik dari banyak band Amerika dan Inggris. Aneh. Tapi kemudian hal itu sangat meresap ke dalam seluruh elemen hidupku. Setiap sendi yang bergerak dan setiap jiwa yang melayang mengikuti arus pikiran yang sering berlari sendiri.
Aku berjalan sendiri tanpa siapa pun pendamping. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika rahim yang melahirkanmu dan tangan yang memberimu makan tidak pernah berjalan mendampingi. Apakah in sebuah kesalahan besar, seperti seorang anak yang membunuh karena sebuah ejekan? Aku tidak tahu kenapa sampai hari Aku menuliskan ini, alasan dibalik semua kejahatan cinta yang dilakukan mereka. Aku tidak salah. Aku tidak melakukan apa - apa. Aku hanya berjalan terkadang berlari dan tak jarang terjatuh. Dengan segala hormat Aku pergi meninggalkan untuk sebuah harta karun yang bahkan Aku sendiri tidak menginginkannya. Jakarta.
Kekerasan kota ini tidak menjuga menghancurkan batu - batu yang sudah ku susun rapi untuk sebuah perjalanan musik. Walaupun kota ini juga tidak membantu menguatkannya sama sekali. Suara - suara yang ku dengar justru semakin lantang, tak terkecuali. Aku melawan, Aku katakan kepada isi bumi dan angkasa kalau apa yang seharusnya terjadi bukan yang saat ini terjadi. Aku cuma ingin ini, Aku punya jalan dan lenteraku sendiri. Biarkan aku mengalun dalam tujuh tangga nada selamanya.
Aku duduk di atas sebuah perahu kayu reyot di sebuah danau kecil. Melihat permukaan air yang memantulkan bentuk dua wajah yang beradu dengan riak - riak kecil. "Aku tidak ingin melawan, Aku hanya mencoba meneruskan"
Kedai Kemang
15.07 WIB
Tuesday, January 8, 2013
Perempuan Bar #2
Melangkahkan kaki dia di sana. Mengibas pintu kayu reyot bak wanita mengibaskan rambut hitam panjangnya. Tidak terlalu tinggi tapi lebih putih dari perempuan kebanyakan malam ini. Mahkota hitam di atas kepalanya tak terlalu panjang, hanya sedikit menutupi telinga. Bagian paling menariknya adalah, beberapa bagian tubuhnya ditutupi gambar - gambar kehidupan nan indah. Sebentar... Oh dia juga membawa serta tas kecil hitam yang disandang di atas bahunya. Tidakkah menarik?
Dengan gontai berjalan pelan, mengikuti alunan musik yang senada dengan gerakan pantatnya yg cukup menggoda. Celana pendek jeans mencoba menutupi dua buah daging putih mulus pahanya. Dibiarkannya mata - mata hitam di sana mendelik menikmati salah satu dua jenjang kaki terbaik ciptaan Tuhan. Oh... Silakan kalian agungkan nama Tuhan kalian masing - masing.
Bagaimana denganku? Untuk pertama kali aku begitu khusyu memanjatkan permohonan kepada Tuhanku. Bukan untuk menjadikanku lebih baik atau memberiku rezeki yang berlimpah. Aku memohon agar memberikan perempuan itu sebuah petunjuk agar dia memilih kursi keberuntungannya, kursi di sebelahku. Semakin kuat suara derap langkahnya terdengar olehku. Ini bagaikan momen dimana Houdini mengucapkan semua mantra - mantranya saat dia mencoba melepaskan diri di dalam air. Begitulah yang Aku lakukan, mengucapkan semua doa yang ku hafal sampai akhirnya kurasakan hembus nafas yang mengikuti suara parau nan feminim, "satu shoot scotch!" Mulai saat itu Aku memutuskan untuk menghabiskan setengah lebih botol beer-ku, dengan tersedak tentunya, lalu turut juga memesan scotch yang bahkan Aku sendiri tak yakin ada kandungan alkohol macam apa di dalamnya.
Aku berfikir apa yang harus Aku katakan pertama untuk memulai topik pembicaraan. Aku bukan tipe laki - laki tangguh, gagah dan berani untuk hal ini. Lebih baik hadapkan saja Aku pada seekor harimau maka Aku pasti tau cara melawannya. Kemudia Aku coba berandai - andai, jika Aku mengatakan "Halo, tas kamu terbuka" maka salah satu respon yang muncul adalah, "Hey kamu maling!" dan dampak yang juga akan muncul adalah babak - belur. Kemudia jika Aku memulai dengan "Aku teraktir kamu minum?" maka respon berikutnya adalah, "Pervert!!!" dan dampak yang juga mungkin terjadi Sang Perempuan pergi kepada laki - laki blusukan di meja sebelah kiri.
Okay. Aku harus memulainya. Aku harus memulainya. Aku akan memulainya dengan..."eh halo, kok dari tadi terlihat bingung. Ada yang bisa aku bantu?" "Oh tidak, Aku hanya sedang menikmati whisky ini" "Kamu jangan bercanda, bahkan kamu tidak mencoba menenggaknya dari tadi!" Dengan terbata - bata, "A..ku h.aa..n.ya ttt..aak punya ide dan sss..uara mengapa perr..em.puan ss.ecantik kamu bisa ada di tempat ini.
Sekarang suasana begitu mencair, bahkan terlihat begitu mengalir. Tanpa hirarki yang mengharuskan Aku selalu bicara duluan atau sebaliknya. Kami menimpali satu sama lain, dia memberikan jokes Aku tertawa juga sebaliknya. Ketika dia bercerita, Aku sangat fokus mendengarkan semua yang terkandung di dalamnya. Termasuk gestur tubuhnya yang membuatku hanyut sedalam - dalamnya hanya dalam hitungan menit. Sesaat kemudian dia memintaku bercerita. Aku bercerita mengenai beberapa penggalan hidupku, mengapa Aku bisa ada di kota ini, apa pekerjaanku, apa hobiku dan banyak hal lainnya. Begitu lepas semua kata dari mulutku tertata rapi dalam percampuran kalimat panjang dan pendek. Hingga Aku tak sadar ternyata perempuan ini menitikkan air mata. Dia menangis. Apa yang sudah ku katakan? Apa Aku sudah menyinggung bagian pahit masa lalunya? atau Aku tak sadar membangkitkan ketakutannya? Aku mengumpat diriku sendiri!!
RGB Digital Imaging, Kemang
12.11 WIB
Friday, December 21, 2012
Perempuan Bar
Matahari
pagi datang menyambutku begitu cepat. Tidak seperti hari - hari
sebelumnya ketika Aku berbalik arah menghindarinya. Tidak ada yang
istimewa kenapa Aku melakukannya. Hanya jika Aku bangun lebih lama, Aku
akan bangun dengan mimpi buruk.
Aku tidur bersama seorang perempuan paling cantik tadi malam. Aku
bertemu dengannya di sebuah bar kelas menengah di kawasan 'Kerah Putih.'
Kami sepanjang waktu. Dari malam yang masih malu - malu untuk hadir
sampai malam yang murka dan suram karena kami tak kunjung pulang.
Aku tidak mendapatkan firasat apa - apa ketika memutuskan untuk pergi
malam tadi. Aku hanya ingin keluar dari ruang sempit berukuran 4x4 yang
tidak lagi menarik untuk ditiduri. Aku melangkahkan kaki ke sebuah bar
dengan pintu kayu model Amerika 1950an. Tidak terlalu reot, tapi cuku
kusam bila dibandingkan dengan cafe - cafe modern di luar sana.
Kondisi di dalam seperti biasanya, sebuah meja panjang tempat para
bartender bekerja dan sekumpulan meja bulat kayu untuk para penikmat
kesendirian malam. Kesenderian malam? Oh ya tentu saja. Meja - meja itu
hanya diisi paling banyak satu makhluk hidup yang disebut manusia.
Sisanya? Beberapa botol beer dan gin. Kesendirian bukan.
Tanpa maksud untuk mengejek mereka, Aku juga sendiri malam itu. Namun
Aku lebih memilih duduk di meja panjang tempat para bartenders
berlindung. Sebuah botol berwarna hijau menghampiriku. Suara berat dari
kakek berumur lebih dari setengah abad, Johnny Cash. Mengalun mesra
menemani setiap khayalan liar di sana. Ternyata cash masih punya cukup
nyali.
Pandangan mataku yang mengelilingi setiap sudut ruangan, mengikuti
kemana pikiran - pikiran liarku berjalan. Aku santai sejenak. Sampai
akhirnya mereka harus berhenti secara spontan, bahkan Aku hampir
tersedak beer yang sedang ku minum...
Karang Pola, Pasar Minggu
10-Des-12, 07.30 WIB
Tuesday, December 18, 2012
APA?
Sebenarnya, apa yang orang - orang cari dalam Senin - Minggu mereka berjalan? Apakah tertawa dan menangis sepanjang waktu. Kemudian tertawa dan menangis sepanjang minggu. Kemudian tertawa dan menangis, tertawa lagi dan menangis lagi.
Ada satu peristiwa dimana Aku saat itu sedang duduk sendiri tanpa termenung tetapi berfikir. Aku mau sama dengan mereka, atau Aku akan mengancurkan tembok batas ranah berfikir manusia.Setelah itu Aku masih berusaha menarik ulur kerangka berfikir untuk sampai di sebuah titik cerah. Toh tidak harus seorang Superhero yang bisa mendobrak dan menghancurkan apa yang menghalanginya. Tidak juga Boss cartel narkoba yang mampu membeli dan merubah negaranya. Tapi seorang anak muda yang berfikir dengan raga akan mampu berjalan di atas riak air kehidupan. Itu saja.
Sebenarnya apa yang orang - orang tahu tentang cita bangku Sekolah Dasar? Apakah berbeda dengan cita saat ini. Saat manusia sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Saat manusia tidak harus merangkak lagi hanya untuk mendaptkan botol susu.
Sebuah cita sudah tergantung begitu tinggi dalam setiap alam berfikir manusia. Ketika cita mengenal kata dan kalimat, cita bertransformasi. Ketika cita mengenal tumbuhan, hewan dan manusia, cita berkembang. Ketika cita bertemu dengan rasa dan cinta, cita mengenalkan dalam wujud yang paling indah. Lalu bermunculan akumulasi cita di tengah - tengah kehidupan manusia. Manusia berlomba - lomba menemukan citanya. Saat itulah manusia terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama manusia yang bertemu dengan citanya. Kedua, manusia yang tersesat dan tidak pernah bertemu dengan cita. Yang ketiga manusia yang justru bertemu dengan cita orang lain, kemudian melabeli itu sebagi miliknya.
Sejujurnya apa yang orang - orang tahu soal cinta? Hahaha... Sejujurnya Aku juga tidak tahu harus menulis apa pada bagian ini. Bukan karena ini hal yang rumit, tapi memang cinta tidak bisa ditafsirkan dengan frase tulisan manapun. Terlalu suci. Tapi satu hal yang Aku pahami, cinta itu menggunakan hati. Jadi semua aksi dan rasa yang menggunakan hati itulah cinta.
Reading Room, Kemang
20.09
Subscribe to:
Posts (Atom)