Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Wednesday, May 28, 2014

Menunggu Pagi

Aku begitu salut kepada malam. Entah mengapa, tapi bagiku bagian bumi ketika matahari sedang terhalang bulan itu adalah saat yang indah.

Makhluk-makhluk bernama manusia yang tidak pernah terlihat sepanjang siang berkeliaran. Semakin terasa spesial karena tidak mudah bertemu makhluk seperti itu

Mereka melakukan aktivitas yang juga tidak dilakukan manusia kebanyakan. Kelangkaan.

Cinta dan kasih sayang, terkadang lebih banyak terpancar kala malam. Bahkan mereka mencintai yang seharusnya tidak dicintai. Mereka menyanyi apa yang tidak pernah mereka sayangi saat matahari di atas kepala.

Mau tahu kehebatan malam lainnya. Malam sanggup membuat pejuang cinta paling perkasa di dunia menunggu kemudian menangis kesal. Malam sanggup membuat wanita agamis merasa nyaman telanjang dan meringis.

Sayangnya, menunggu malam adalah pekerjaan yang melelahkan. Apalagi faktanya Sang Malam sering kali berlalu begitu cepat diterjang mimpi. Mimpi yanf membuat manusia menantikan malam-malam berikutnya.

Fairmont Hotel, Makati City, Filipina
28/5/2014 - 02.02 Waktu Filipina.

Thursday, December 5, 2013

Tulus..?

Engkau tak ubahnya yang lain. Mereka yang menuntut pelabelan atas seseorang. Entah untuk apa.

Engkau tak ubahnya yang lain. Berusaha mendapatkan apapun yang didapatkan orang lain. Bahkan, sejak lahir saja kembar tak pernah sama. Aku juga

Lantas mengapa masih saja?

Tidak adakah yang benar-benar tulus di Jakarta? Apa benar semua sudah hancur melebur ke dalam satu bejana lumpur sehingga tak lagi menampakkan sinar?

Daun-daun hijau di dinding berbisik, "masihkah dia memikirkan mu dalam lelapnya?" Aku tidak peduli.

Rubrik dalam ranjang berteriak, "jangan bodoh dengan cinta, karena itu cuma sementara!" Tahu aku bilang apa?

Aku tiada pernah berbicara lain selain cinta. Sampul kontekstual manusia tidak pernah tentang logika, baik dan buruk, pintar dan bodoh. Ini cinta.

Lantas mengapa masih saja?


Calibata B/10
01.28 WIB

Wednesday, May 22, 2013

Masa Lalu

Masih di tempat yang sama, dengan gelas susu yang sama dia mencoba membunuh malam. Kadang sekelibat asap putih berhembus tepat di depan wajahnya. Asap rokok tiada henti bergulir, entah sudah berapa batang.

Tidak tahu apa yang dia lihat, yang jelas matanya menerawang begitu sendu. Setidaknya itu yang terlihat di banyak malam terakhir.

Kios - kios sudah mengunci rapat pintu kacanya. Tersisa sebuah warung kecil di antara yang gelap. Apakah dia memang terbiasa menghabiskan malam sendiri? Tidakkah membosankan?

Tapi kali ini dingin malam ini begitu menusuk. Bahkan tak seorang Eskimo pun sanggup menerjang badai kabut pinggiran kota. Tapi dia sanggup. Apa dia berasal lebih jauh dari utara bumi?

Matahari semakin mendekat, tapi dia tak juga beranjak se-inci pun dari kursinya. Matanya masih liar di usianya yang sudah hampir tiga jam itu.

Apa yang sebenarnya telah dia lakukan?



Calibata Borneo / 10
03.00 WIB

Wednesday, March 6, 2013

Morat Marit Maret

GILA!! Sudah sampai saja di bulan ketiga tahun ini. Sama sekali tidak menyadari mengapa begitu cepatu waktu maju, lebih cepat dari kumis dan jenggot yang baru dipotong. Masih tertulis di benakku walaupun sudah mulai pudar, banyak titik - titik yang ingin ku capai sehingga nanti akan menggambarkan garis panjang kehidupan. Jika saat ini ada yang bertanya sudah berapa panjang garis itu, Aku akan menjawab "tidak lebih panjang dari rambut seorang perempuan Indonesia." Tidak jelek menurutku. Sebenarnya ketika Aku membuka halaman dan menulis ini, Aku berniat untuk tidak menceritakan apapun tentang diriku. Memang ini bukuku, ini halamanku, ini jemariku, tapi ini tidak melulu tentangku yang menghabiskan waktu di kursi empuk nan rupawan, menunggu datangnya senja lalu kembali pulang mencoba merakit puzzle otakku, mengingat apa sebenarnya hasratku. Oh maafkan Aku kawan, sudah tersebutkan. Lebih baik ku lanjutkan.

Bulan ini kulkas di rumahku kosong, tidak seremah pun tertinggal selain remah es batu. Tau mengapa? Aku yang mengosongkannya kemarin. Aku lelah dengan tempat tidurku yang panas dan bau tembakau. Aku mau  selalu dingin di tengah isu global warming yang Aku sendiri sudah tak ingin peduli. Kamarku sesak! Setiap malam belasan orang datang, berkumpul, tertawa, bernyanyi dan berdansa. Bahkan lebih sempit dari semua ruang penjara yang ada di negara ini.

Bak mandiku bocor karena semen penahannya sudah berjamur. Mungkin dulu kualitasnya tidak sebagus saat ini. Tapi ini berbeda dengan rambut. Belum pernah ku lihat rambut perempuan saat ini, sehitam dan selebat rambut Ibuku, perempuan 1963. Dewasa ini perempuan terbelalak dengan fatamorgana kehitaman dan kelebatan rambut. Bukan masalah besar selama kalian tidak terperangkap di dalamnya. Seperti terperangkap dalam kemacetan senayan, bisa habis semua bulu di kepala.

Mobilku rusak lagi, entah apa sekarang yang merusaknya. Tetapi Aku tidak percaya jika ternyata yang melakukan adalah gerombolan anak bocah kecil yang basah karena Tuhan menangis lagi. Tuhan sedih cintaNya tak berbalas, tak satupun. Sang Kekasih tak mampu menjaga keindahan kembang - kembangNya. Tak kuat menahan gempuran penguasa hingga hancurlah pagar - pagar besi tata negaraNya. Sang Kekasih juga tak berdaya melawan perompak, tak berdaya hingga mengorbankan cintaNya.

Tuhan sedih wahai Maret...

Wednesday, February 27, 2013

Hujan

Sudah begitu lama sejak badai musim ini reda
Sejak air membawa serta tanah dan batu untuk melawan manusia
Sekarang daun - daun sudah tumbuh kembali
Pertanda tanah dan batu rela mengalah disinari mentari

Bertumpuk bait masih menggantung di dahi
Letupan kata dalam frase dan semangat
Hilang seketik diserbu hitam yang pekat
Habis terkikis tali - tali yang tidak berarti

Binatang tertawa, binatang bercinta
Air langit turun membasahi khalifahnya
Menghapus bersih semak luka dan angkara
Mengalir, mengalir dan mengalirlah


RGB Class
12.12 WIB

Tuesday, January 8, 2013

Perempuan Bar #2

Melangkahkan kaki dia di sana. Mengibas pintu kayu reyot bak wanita mengibaskan rambut hitam panjangnya. Tidak terlalu tinggi tapi lebih putih dari perempuan kebanyakan malam ini. Mahkota hitam di atas kepalanya tak terlalu panjang, hanya sedikit menutupi telinga. Bagian paling menariknya adalah, beberapa bagian tubuhnya ditutupi gambar - gambar kehidupan nan indah. Sebentar... Oh dia juga membawa serta tas kecil hitam yang disandang di atas bahunya. Tidakkah menarik? 

Dengan gontai berjalan pelan, mengikuti alunan musik yang senada dengan gerakan pantatnya yg cukup menggoda. Celana pendek jeans mencoba menutupi dua buah daging putih mulus pahanya. Dibiarkannya mata - mata hitam di sana mendelik menikmati salah satu dua jenjang kaki terbaik ciptaan Tuhan. Oh... Silakan kalian agungkan nama Tuhan kalian masing - masing. 

Bagaimana denganku? Untuk pertama kali aku begitu khusyu memanjatkan permohonan kepada Tuhanku. Bukan untuk menjadikanku lebih baik atau memberiku rezeki yang berlimpah. Aku memohon agar memberikan perempuan itu sebuah petunjuk agar dia memilih kursi keberuntungannya, kursi di sebelahku. Semakin kuat suara derap langkahnya terdengar olehku. Ini bagaikan momen dimana Houdini mengucapkan semua mantra - mantranya saat dia mencoba melepaskan diri di dalam air. Begitulah yang Aku lakukan, mengucapkan semua doa yang ku hafal sampai akhirnya kurasakan hembus nafas yang mengikuti suara parau nan feminim, "satu shoot scotch!" Mulai saat itu Aku memutuskan untuk menghabiskan setengah lebih botol beer-ku, dengan tersedak tentunya, lalu  turut juga memesan scotch yang bahkan Aku sendiri tak yakin ada kandungan alkohol macam apa di dalamnya.

Aku berfikir apa yang harus Aku katakan pertama untuk memulai topik pembicaraan. Aku bukan tipe laki - laki tangguh, gagah dan berani untuk hal ini. Lebih baik hadapkan saja Aku pada seekor harimau maka Aku pasti tau cara melawannya. Kemudia Aku coba berandai - andai, jika Aku mengatakan "Halo, tas kamu terbuka" maka salah satu respon yang muncul adalah, "Hey kamu maling!" dan dampak yang juga akan muncul adalah babak - belur. Kemudia jika Aku memulai dengan "Aku teraktir kamu minum?" maka respon berikutnya adalah, "Pervert!!!" dan dampak yang juga mungkin terjadi Sang Perempuan pergi kepada laki - laki blusukan di meja sebelah kiri.

Okay. Aku harus memulainya. Aku harus memulainya. Aku akan memulainya dengan..."eh halo, kok dari tadi terlihat bingung. Ada yang bisa aku bantu?" "Oh tidak, Aku hanya sedang menikmati whisky ini" "Kamu jangan bercanda, bahkan kamu tidak mencoba menenggaknya dari tadi!" Dengan terbata - bata, "A..ku h.aa..n.ya ttt..aak punya ide dan sss..uara mengapa perr..em.puan ss.ecantik kamu bisa ada di tempat ini. 

Sekarang suasana begitu mencair, bahkan terlihat begitu mengalir. Tanpa hirarki yang mengharuskan Aku selalu bicara duluan atau sebaliknya. Kami menimpali satu sama lain, dia memberikan jokes Aku tertawa juga sebaliknya. Ketika dia bercerita, Aku sangat fokus mendengarkan semua yang terkandung di dalamnya. Termasuk gestur tubuhnya yang membuatku hanyut sedalam - dalamnya hanya dalam hitungan menit. Sesaat kemudian dia memintaku bercerita. Aku bercerita mengenai beberapa penggalan hidupku, mengapa Aku bisa ada di kota ini, apa pekerjaanku, apa hobiku dan banyak hal lainnya. Begitu lepas semua kata dari mulutku tertata rapi dalam percampuran kalimat panjang dan pendek. Hingga Aku tak sadar ternyata perempuan ini menitikkan air mata. Dia menangis. Apa yang sudah ku katakan? Apa Aku sudah menyinggung bagian pahit masa lalunya? atau Aku tak sadar membangkitkan ketakutannya? Aku mengumpat diriku sendiri!!


RGB Digital Imaging, Kemang
12.11 WIB

Friday, December 21, 2012

Perempuan Bar

Matahari pagi datang menyambutku begitu cepat. Tidak seperti hari - hari sebelumnya ketika Aku berbalik arah menghindarinya. Tidak ada yang istimewa kenapa Aku melakukannya. Hanya jika Aku bangun lebih lama, Aku akan bangun dengan mimpi buruk.

Aku tidur bersama seorang perempuan paling cantik tadi malam. Aku bertemu dengannya di sebuah bar kelas menengah di kawasan 'Kerah Putih.' Kami sepanjang waktu. Dari malam yang masih malu - malu untuk hadir sampai malam yang murka dan suram karena kami tak kunjung pulang.

Aku tidak mendapatkan firasat apa - apa ketika memutuskan untuk pergi malam tadi. Aku hanya ingin keluar dari ruang sempit berukuran 4x4 yang tidak lagi menarik untuk ditiduri. Aku melangkahkan kaki ke sebuah bar dengan pintu kayu model Amerika 1950an. Tidak terlalu reot, tapi cuku kusam bila dibandingkan dengan cafe - cafe modern di luar sana.

Kondisi di dalam seperti biasanya, sebuah meja panjang tempat para bartender bekerja dan sekumpulan meja bulat kayu untuk para penikmat kesendirian malam. Kesenderian malam? Oh ya tentu saja. Meja - meja itu hanya diisi paling banyak satu makhluk hidup yang disebut manusia. Sisanya? Beberapa botol beer dan gin. Kesendirian bukan.

Tanpa maksud untuk mengejek mereka, Aku juga sendiri malam itu. Namun Aku lebih memilih duduk di meja panjang tempat para bartenders berlindung. Sebuah botol berwarna hijau menghampiriku. Suara berat dari kakek berumur lebih dari setengah abad, Johnny Cash. Mengalun mesra menemani setiap khayalan liar di sana. Ternyata cash masih punya cukup nyali.

Pandangan mataku yang mengelilingi setiap sudut ruangan, mengikuti kemana pikiran - pikiran liarku berjalan. Aku santai sejenak. Sampai akhirnya mereka harus berhenti secara spontan, bahkan Aku hampir tersedak beer yang sedang ku minum...


Karang Pola, Pasar Minggu
10-Des-12, 07.30 WIB

Tuesday, December 18, 2012

APA?

Sebenarnya, apa yang orang - orang cari dalam Senin - Minggu mereka berjalan? Apakah tertawa dan menangis sepanjang waktu. Kemudian tertawa dan menangis sepanjang minggu. Kemudian tertawa dan menangis, tertawa lagi dan menangis lagi.

Ada satu peristiwa dimana Aku saat itu sedang duduk sendiri tanpa termenung tetapi berfikir. Aku  mau sama dengan mereka, atau Aku akan mengancurkan tembok batas ranah berfikir manusia.Setelah itu Aku masih berusaha menarik ulur kerangka berfikir untuk sampai di sebuah titik cerah. Toh tidak harus seorang Superhero yang bisa mendobrak dan menghancurkan apa yang menghalanginya. Tidak juga Boss cartel narkoba yang mampu membeli dan merubah negaranya. Tapi seorang anak muda yang berfikir dengan raga akan mampu berjalan di atas riak air kehidupan. Itu saja.

Sebenarnya apa yang orang - orang tahu tentang cita bangku Sekolah Dasar? Apakah berbeda dengan cita saat ini. Saat manusia sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Saat manusia tidak harus merangkak lagi hanya untuk mendaptkan botol susu.

Sebuah cita sudah tergantung begitu tinggi dalam setiap alam berfikir manusia. Ketika cita mengenal kata dan kalimat, cita bertransformasi. Ketika cita mengenal tumbuhan, hewan dan manusia, cita berkembang. Ketika cita bertemu dengan rasa dan cinta, cita mengenalkan dalam wujud yang paling indah. Lalu bermunculan akumulasi cita di tengah - tengah kehidupan manusia. Manusia berlomba - lomba menemukan citanya. Saat itulah manusia terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama manusia yang bertemu dengan citanya. Kedua, manusia yang tersesat dan tidak pernah bertemu dengan cita. Yang ketiga manusia yang justru bertemu dengan cita orang lain, kemudian melabeli itu sebagi miliknya.

Sejujurnya apa yang orang - orang tahu soal cinta? Hahaha... Sejujurnya Aku juga tidak tahu harus menulis apa pada bagian ini. Bukan karena ini hal yang rumit, tapi memang cinta tidak bisa ditafsirkan dengan frase tulisan manapun. Terlalu suci. Tapi satu hal yang Aku pahami, cinta itu menggunakan hati. Jadi semua aksi dan rasa yang menggunakan hati itulah cinta.


Reading Room, Kemang
20.09

Thursday, November 15, 2012

Pelepas Penat







Banyak orang menyebutnya perusak suasana, ada pula yang meneyebutnya penghambat udara segar, kemudian dia di cap sebagai perusak moral masyarakat. Apa yang menyebabkan dia begitu rusak dan hina? Bahkan ketika Aku menulis ini Aku sedang menghembuskannya dengan bebas kemudian kuhirup dengan bebas juga oksigen tanpa terhambat oleh apapun.

Ada sebuah anekdot, banyak orang yang dipersatukan oleh dia. Banyak orang bertemu kemudian berkenalan menceritakan banyak hal. Lalu mereka berteman, dan bercinta karena dia.

Terkadang dia dianggap sebagai teman dan kekasih paling setia dikala matahari lahir, kemudian perlahan kembali ke peraduan hingga gelap datang memenuhi angkasa. Kemudian bercumbu dengan dingin yang melahirkan embun. Cukup setia, bukan?

Buat Aku sendiri dia lebih dari sekedar teman dan kekasih setia, dia bak pion catur yang siap mempertaruhkan nyawanya juga bagai menteri ketika Aku memputuhkan nasehat atas semua inspirasi dan masalah. Oh tak lupa Aku saat dia bak seorang raja yang sigap mengambil keputusan. Dia pelepas penatku.


Marbella Residence, Kemang
05.46 WIB

Wednesday, November 14, 2012

Jakarta Membara

Yang ternyata menarik adalah ketika Aku bangun pagi dari lantai 17 sebuah gedung apartemen, yang Aku rasain adalah PANAS. "Njing kenapa gini amet tinggal di Kota." Setelah selesai ngedumel Aku liat jam masih 06.30 pagi yang mana biasanya tidak secerah ini. Belum mandi dan gosok gigi Aku sudah makan roti setangkap plus selai kacang bertabur coklat. 

Berdasarkan cerita diatas, posisiku sekarang ada di depan TV, tangan kanan pegang roti, tangan kiri garuk - garuk (apa juga gue garuk kalau pagi - pagi). Kemudian Aku menyalutkan cerah Jakarta pagi ini yang tidak biasanya. Tapi kemudian yang menjadikan silau pagi ini begitu berbeda adalah cerah Jakarta yang diikuti oleh panas yang cukup membara. "Ah bodo lah" capek banget mikirin gituan sementara semalem mimpi gituan ku gak puas karena muka perempuannya burem plus kepergok sama temen karena ku pake meja kerjanya. Deym!!

Okay kita lanjut lagi, masih di kegiatan nonton TV, garuk - garuk dan makan roti, yang dibalut oleh situasi yang panas dan membara. Aku mulai penasaran, sepertinya ada yang gak beres. Aku keliling kamar, ternyata gak ada apa - apa. Dapur, kamar mandi, meja kerja temen, balkon, semua aman. Ada apa??
Lalu apa?  *Lalu tiba - tiba kau ada yang punya hati ini terluka, namun ku berkata* #Love Music Playing# STOP!!

Lalu ternyata yang terjadi adalah kebakaran sodara - sodaraaaaaaa pada satu lantai di atas kamar ku yang katanya kamar kekasih F**#@i A***rrrrr anak dari Bapak A**#@d A***rrrrr yang tersohor itu!! berkah atau kutukan kita tak pernah tahu sodara - sodara namun apapun yang terjadi kita doakan saja!!! semoga semuanya selamat sehat sentosaaaaa *Boleh dibaca dengan intonasi Komentator Bola atau Jeremy Teti

Aku coba bantu sebisa ku dong, pastinya, namanya juga cowok. Tapi nih buat info aja, Air mukanya biasa aja, tapi body-nya itu jon, aduh huftness deh! Aku ke atas bantu angkat - angkat barang yang kecilan dan ada petugas yang tentunya lebih strong. Kebakarannya gak makan banyak wilayah sih di kamar dia, cuma memang akan merembet ke kamar tidur dimana banyak benda mudah terbakar. Eh Aku lupa ngasih tau, si korban itu tinggal sendirian kecuali dateng kekasihnya. Spik - spik laa laa...

Aku    : "Babibubab"
Doski : "Ohh blabli babibu"
Aku    : "Hahaha bibubla bla"
Doski : "Baibuba bubabi blablabli"
Aku    : "Hmm yaudah kamar gue aja dulu, gimana?"
Doski : "Yaudah yuk, tapi gue ambil henfon dulu!"
Aku    : "OH MY GOSH!!"

(Jeng-jeng-jeng!!)Sampai dikamar ku, kita ngobrol panjang lebar segala macem topik, mulai dari kebakaran tadi, kenapa dia tinggal sendiri, kenapa dia gak ngehubungin kekasihnya, kenapa Aburizal Bakrie rahangnya bisa maju. Lebih luas lagi menjerus pada topik, kenapa kita ngobrolnya kaku banget, kenapa kita gak dikasur aja ngobrolnya, atau apa penyebab inflasi di Indonesia, apasih sebenarnya yang menyebabkan Jakarta begitu macet, sampai akhirnya kita ngobrol tanpa bicara, yang lebih bisa dibilang dengan mendesah, Yes! Kita mendesah!

Kita baergulat dari kamar ke atas sofa dari sofa kembali ke kamar, dari kamar ke atas meja. Wow cukup panjang perjalanannya yah. Aku baru sadar yang ku jadikan 'ring gulat' adalah meja kerja. Meja kerja temanku. Tapi yaudalah sudah terlanjur basah. Sampai tiba dimana segala sesuatunya mulai berbayang - bayang dan mengawang, terasa lebih intim dari sebelumnya, Aku denger ada suara pintu dibuka dan seseorang masuk kemudian teriak "ANJINGGG!! Kenapa kau? Bangun!!"

Aku yang dalam situasi hampir tuntas, tersentak dan tersadar. Lalu mengalami kondisi psikis yang down luar biasa akibat tidak tuntasnya ritual sakral nan binal tersebut. "Oh apakah ini semua hanya mimpi?" Anjing! tidak se-nyata rasa yang kudapat. Aku tau kenapa aku gak puas di mimpi gituan semalam. Yasudalah Aku masih punya alternatif lain, masih ada kekasih kesayangan yang bernama Tari. Langsung ku panggil Tari penuh nafsu, Oh Tari, come to papa darling!! (Sekedar info, Tari adalah singkatan dari Tangan Kiri).

Selang beberapa menit, Aku sudah dalam posisi ketika terdengar suara perempuan dewasa berteriak histeris, "KEBAKARAAANNN!!!!!


RGB Digital Imaging, Kemang
12.52 WIB

Labels

ARIFA (1) Coretan (10) Emosi Jiwa (10) Fiksi (2) Minggu Pagi (4) Musik (10) Uncategorized (6)