Showing posts with label Emosi Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Emosi Jiwa. Show all posts

Thursday, December 5, 2013

Tulus..?

Engkau tak ubahnya yang lain. Mereka yang menuntut pelabelan atas seseorang. Entah untuk apa.

Engkau tak ubahnya yang lain. Berusaha mendapatkan apapun yang didapatkan orang lain. Bahkan, sejak lahir saja kembar tak pernah sama. Aku juga

Lantas mengapa masih saja?

Tidak adakah yang benar-benar tulus di Jakarta? Apa benar semua sudah hancur melebur ke dalam satu bejana lumpur sehingga tak lagi menampakkan sinar?

Daun-daun hijau di dinding berbisik, "masihkah dia memikirkan mu dalam lelapnya?" Aku tidak peduli.

Rubrik dalam ranjang berteriak, "jangan bodoh dengan cinta, karena itu cuma sementara!" Tahu aku bilang apa?

Aku tiada pernah berbicara lain selain cinta. Sampul kontekstual manusia tidak pernah tentang logika, baik dan buruk, pintar dan bodoh. Ini cinta.

Lantas mengapa masih saja?


Calibata B/10
01.28 WIB

Monday, June 17, 2013

Kantor Berita Musik?

Bekerja sebagai seorang jurnalis musik adalah bagian dari passion hidup saya selama ini. Hobi menulis dan bermusik, tentu tidak akan susah ketika harus bekerja dengan tuntutan menulis apa pun yang berhubungan dengan musik, album baru, lagu baru, kolaborasi baru dan konser.

Bercerita tentang ini Saya jadi ingat ucapan Saya kepada seorang teman, "pengen banget nulis tentang musik, apapun!" Tentu menyenangkan ketika semua itu tercapai di tiga bulan terakhir ini. Ya, tiga bulan. Setelah lima tahun bertengkar demi mewujudkan semua ini terjadi. Setelah ratusan nada miring akan paradigma 'mau jadi apa seorang jurnalis'. Ya mau jadi jurnalis!

Tunggu dulu, jangan dulu kalian salutkan kemengan itu, karena ternyata semuanya tidak seindah seperti yang dibayangkan selama lima tahun terakhir. Alasannya? Jelas, menjadi jurnalis musik di sebuah kantor berita, hanya menjadi rubrik kecil dari kanal besar seluruh berita yang ditulis setiap harinya. Tolong jangan bayangkan suasana dimana semua orang begitu terlihat sebagai pengamat, alih - alih pengamat, Saya dan mereka yang ada di sana justru lebih menggambarkan orang - orang dengan semangat yang tertunda untuk idealisme bos besar yang sangat tinggi.

Menuliskan setidaknya 10 berita musik setiap hari sama sekali tidak menyulitkan, satu hal yang membuat semua itu berat adalah munculnya tokoh musik baru. Bagi Saya mereka bahkan belum bisa memainkan satupun alat musik. Bisa dibayangkan ketika seorang yang jelas - jelas lahir bukan untuk tujuh nada, hanya karena sebuah peristiwa Ring Back Tone (RBT), Saya harus mewawancaranya dan memasukannya ke dalam rubrik musik. Ini tidak fair!! Ditambah peristiwa itu harus didahulukan daripada sebuah band punk legendaris asal Amerika hanya karena mereka tidak punya pasar di Tanah Air ini.

Ada lagi satu peristiwa dimana Saya harus menuliskan tentang lima album dengan foto paling seksi yang pernah ada. Ini bagus untuk para kolektor dan penggemar mereka sendiri. Bagaimana dengan orang tua dan anak kecil dan mungkin saudara Saya yang membaca lalu menemukan nama Saya sebagai penulisnya. Ini tidak bagus! Dan kemudian mereka meminta Saya mengulanginya lagi untuk beberapa hari dengan tema yang hampir sama. Sepertinya begitu banyak orang yang bertambah pengetahuan bermusiknya karena tulisan itu. 

Sejujurnya Saya lebih mendambakan sebuah media musik yang sangat musik. Tidak dengan sesuatu yang berbau musik, tapi mendarah daging-kan musik. Musik itu soal jiwa dan rasa, bukan kaos band rock apa yang anda pakai hari ini. Bukan juga soal apakah si anu yang diorbitkan oleh si ini, padahal si anu dan ini sama sekali tidak bisa bernyanyi. Uang mereka yang bernyanyi.

Musik ini tidak seperti politik dimana banyak pelakunya bisa membohongi siapapun demi keuntungan material. Justru musik itu melatih kejujuran, jarang ada orang yang tidak bisa bernyanyi kemudian dikatakan bagus musikalitasnya, paling - paling dia tenar karena gosip. Penonton menilai langsung, penonton hadir langsung, penonton berdansa dan tepuk tangan!!!

Musisi adalah musisi. Bukan hanya anak band, bukan hanya penyanyi pria dan wanita. Terkadang justru sang pembetot bass dan penabuh drum. Musisi punya jiwa yang mengalunkan tujuh nada dan raga yang dengan irama yang menggelora. Jadi tolong jangan hanya bisa bernyanyi, lantas anda menjadi musisi. Jangan hanya karena jacket kulit anda menjadi seorang Mick Jagger.

Sekedar informasi, saya bekerja untuk sebuah media online terbesar di Indonesia. Dan di rubrik kecil itulah saya bercerita.


RGB Class, Kemang
19.38 WIB

Monday, February 11, 2013

A Lyrical

I know this is never be my pleasure to write something like this, song lyric, someone poems and else. BUT, this is not be just a song for me. Its better be my feeling that i can't never sing. If I have to say the words about him, maybe this is it. This is a song from Cat Stevens - Father & Son, who covered by Johnny Cash & Fiona Apple


It's not time to make a change,
Just relax, take it easy.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

I was once like you are now, and I know that it's not easy,
To be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you've got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.

How can I try to explain, when I do he turns away again.
It's always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

It's not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
if you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
It's hard, but it's harder to ignore it.
If they were right, I'd agree, but it's them you know not me.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.



Rgb Digital Imaging
15.06 WIB

Saturday, February 9, 2013

Kaca

Aku lupa kapan pertama kali Aku menyadari bahwa Aku seorang anak laki- laki yang mempunyai cita - cita. Ketika duduk di Sekolah Dasar sebuah kota kecil Aku ingat betul Aku tidak ingin menjadi apa - apa selain seperti dia, bapakku. Menjadi seorang pekerja keras di sebuah perusahaan yang keras. Bekerja dari Pagi sampai sore atau sore hingga tengah malam dan terkadang dimulai saat hari mulai menghitam sampai matahari akhirnya bersinar lagi. Terlihat sempurna untukku saat itu. Namun semuanya berbeda ketika aku memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama. 

Aku mengenal musik sejak telingaku bahkan belum bisa menyadarkan panggilan kedua orang tuaku. Sejak telingaku bahkan belum tergerak sedikitpun ketika guruku berbicara tentang bagaimana Jendral Soedirman memimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tapi Aku sudah bisa mendengarkan alunan musik dari banyak band Amerika dan Inggris. Aneh. Tapi kemudian hal itu sangat meresap ke dalam seluruh elemen hidupku. Setiap sendi yang bergerak dan setiap jiwa yang melayang mengikuti arus pikiran yang sering berlari sendiri.

Aku berjalan sendiri tanpa siapa pun pendamping. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika rahim yang melahirkanmu dan tangan yang memberimu makan tidak pernah berjalan mendampingi. Apakah in sebuah kesalahan besar, seperti seorang anak yang membunuh karena sebuah ejekan? Aku tidak tahu kenapa sampai hari Aku menuliskan ini, alasan dibalik semua kejahatan cinta yang dilakukan mereka. Aku tidak salah. Aku tidak melakukan apa - apa. Aku hanya berjalan terkadang berlari dan tak jarang terjatuh. Dengan segala hormat Aku pergi meninggalkan untuk sebuah harta karun yang bahkan Aku sendiri tidak menginginkannya. Jakarta.

Kekerasan kota ini tidak menjuga menghancurkan batu - batu yang sudah ku susun rapi untuk sebuah perjalanan musik. Walaupun kota ini juga tidak membantu menguatkannya sama sekali. Suara - suara yang ku dengar justru semakin lantang, tak terkecuali. Aku melawan, Aku katakan kepada isi bumi dan angkasa kalau apa yang seharusnya terjadi bukan yang saat ini terjadi. Aku cuma ingin ini, Aku punya jalan dan lenteraku sendiri. Biarkan aku mengalun dalam tujuh tangga nada selamanya.

Aku duduk di atas sebuah perahu kayu reyot di sebuah danau kecil. Melihat permukaan air yang memantulkan bentuk dua wajah yang beradu dengan riak - riak kecil. "Aku tidak ingin melawan, Aku hanya mencoba meneruskan"


Kedai Kemang
15.07 WIB

Wednesday, December 5, 2012

Persamaan

Aku tahu ketika matamu memandang datar seperti biasanya. Tak ada kejernihan tersendiri dari keruh yang biasanya.
Aku tahu ketika bibirmu tersenyum tipis dalam setiap harinya. Tidak pernah lebih lebar dari pada minggu - minggu sebelumnya.
 Aku juga tahu saat kepalamu mengangguk lemah seperti biasanya. Tidak lebih tegas daripada ajakan - ajakanku yang kemarin.
 Aku juga tahu saat derap langkahmu tak berima seperti biasanya. Tidak semerdu kau berlari menjemput mereka hari ini.

Tapi Aku tak tahu ketika matamu melihat kejernihan yang berbeda dari keruh sebelumnya.
 Tapi  Aku tak tahu ketika bibirmu tersenyum sangat lebar daripada minggu - minggu sebelumnya.
Tapi Aku juga tidak tahu bahwa lambaian lentik kepala itu lebih tegas dari ajakanku waktu itu.
Tetapi Aku tidak pernah tahu kalau ternyata derap langkah itu begitu merdu hingga membuat burung - bernyanyi, ketika kau berlari menjemputku hari ini.


RGB Digital Imaging, Kemang
18.22 WIB

Wednesday, November 28, 2012

Warna - warni #2

Mungkin kalian juga merasa bahwa ada yang berbeda di tengah kita semua. Suatu hal yang sangat tidak sama beberapa tahun yang lalu. Sesuatu hal yang membuat masing - masing kepala di sini berfikir kenapa sekarang seperti ini? Kemana rasa yang lalu? atau apakah dia sudah menjadi makhluk yang berbeda? Tidak jarang pertanyaan di atas menghampiriku sepanjang minggu.

Aku memang pribadi yang berbeda saat ini, bukan manusia yang kalian kenal dulu. Aku bukan manusia yang kalian tertawakan dan tangisi dulu. Aku bukan manusia yang kalian tunggu dulu. Bukan pula manusia yang mendengarkan dan berbicara seperti dulu. Semuanya sudah tak sama. Tenang saja, Aku tidak akan menyalahkan siapapun atas peristiwa ini.

Aku hanya ingin menjadi orang yang berbeda di antara homogenitas manusia yang lain. Aku bosan melihat ke luar dan ke dalam diriku sendiri. Semacam ada simpul yang lebih kuat dan besar dari sekedar simpul penggalang, yang mengikat sekujur tubuhku dan menarikku seperti seekor Kintamani penakut yang selalu menggonggong dari balik pintu. HEI! Coba bayangkan! Kalian tidak mau mengerti. Kalian hanya tahu bahwa Aku tidak lagi menaruh nama kalian pada tumpukan gadget yang ku punya. Kalian hanya tahu bahwa Aku tidak lagi datang pada perayaan terselubung yang kalian buat. Kalian tidak mau tahu!

Aku hanya ingin menjadi warna dan warni. Tidak selamanya Aku akan dipandang sebagai warna. Saat ini aku adalah warni. Warni yang akan selalu menghiasi kalian para warna

Aku tidak berubah. Andai kalian tahu bahwa Aku selalu memahat nama kalian di masing - masing pintu hatiku. Aku selalu menaruh nama kalian di setiap gelembung mimpi. Aku selalu meneriakkan nama kalian di sepertiga malam, ketika aku bangun dan meminta. Aku berfikir bagaimana suatu saat nanti kalian akan berada di harga diri paling atas manusia. Aku berfikir bagaimana kalian dengan bangga menggerakkan dua tangan dan menciptakan bunyian gaduh. Aku berfikiri bagaimana kalian dengan senyum dan baju terbaik berjalan anggun dengan sejuta pujaan. Aku membawa raga dan fikiranku untuk melakukannya. Andai kalian tahu...


RGB Digital Imaging, Kemang
20.40 WIB

Sunday, November 25, 2012

Warna - warni

Saat ini semua yang kujalani sangat berbeda. Mulai dari hadirnya aktivitas - aktivitas baru seperti menulis, mencoret, merekam, berjuang sampai mencintai dan bercinta. Mulai dari bekerja pada sebuah Sekolah Image Editing kemudian menciptakan lagu hingga mencintai kekasih. Aku bangun pagi lebih cepat dan sering dari biasanya, Aku berada di sebuah studio musik lebih lama dari biasanya juga berbaring di atas kasur yang lebih hangat dari biasanya.

Tidak pernah sama lagi saat ini, ketika Aku melihat lembar demi lembar daun jambu yang bergoyang tertiup angin. Pada sebuah musim hujan yang saat ini selalu menjadi kepastian yang paling mutlak di tengah kelabilan Jakarta. Tidak juga sama ketika Aku bercerita tentang sebuah kisah demi kisah masa lalu yang bahkan tidak lebih baik dari seorang penjahat kelas teri di sebuah pasar.

Tapi itu bukan sebuah masalah yang harus diselesaikan bukan? Memang segala seuatunya terlahir berbeda. Toh saat ini Aku juga sedang melihat keceriaan yang mungkin tidak pernah terlihat sebelumnya. Atap - atap yang berwarna - warni melindungi setiap jengkal tuannya dari dingin dan panas dunia. Bahkan yang lebih erotis adalah daun - daun anggrek kecil yang tidak jua serupa padahal mereka dibesarkan oleh satu cawan.

Begini saja, akan ku ceritakan lagi nanti. Aku harus pergi. 


Karang Pola, Pasar Minggu
12.51 WIB


Thursday, November 15, 2012

Ruang Buku

Bersama cinta menulis cinta, kemudian membaca cinta. Lalu menaruhnya dengan cinta di tempat yang penuh cinta. Membiarkan cinta - cinta yang lain mengambil dan meminjamnya. Meresapi makna cinta dalam ruang cinta.



Reading Room, Kemang
20.41 WIB

Pelepas Penat







Banyak orang menyebutnya perusak suasana, ada pula yang meneyebutnya penghambat udara segar, kemudian dia di cap sebagai perusak moral masyarakat. Apa yang menyebabkan dia begitu rusak dan hina? Bahkan ketika Aku menulis ini Aku sedang menghembuskannya dengan bebas kemudian kuhirup dengan bebas juga oksigen tanpa terhambat oleh apapun.

Ada sebuah anekdot, banyak orang yang dipersatukan oleh dia. Banyak orang bertemu kemudian berkenalan menceritakan banyak hal. Lalu mereka berteman, dan bercinta karena dia.

Terkadang dia dianggap sebagai teman dan kekasih paling setia dikala matahari lahir, kemudian perlahan kembali ke peraduan hingga gelap datang memenuhi angkasa. Kemudian bercumbu dengan dingin yang melahirkan embun. Cukup setia, bukan?

Buat Aku sendiri dia lebih dari sekedar teman dan kekasih setia, dia bak pion catur yang siap mempertaruhkan nyawanya juga bagai menteri ketika Aku memputuhkan nasehat atas semua inspirasi dan masalah. Oh tak lupa Aku saat dia bak seorang raja yang sigap mengambil keputusan. Dia pelepas penatku.


Marbella Residence, Kemang
05.46 WIB

Tuesday, November 13, 2012

Akhirnya Datang Juga

Akhirnya datang juga... 
Apanya yang datang? Memang ada yang pergi? Kenapa aku tidak merasakan ada yang bertambah atau berkurang di tubuhku?

Oh, mungkin Akhirnya sampai juga...
Apanya yang sampai? Apakah aku pernah mencari? Atau aku hanya bermimpi lalu orgasme dan basah dan akhirnya aku "sampai"

Oh, Iya Akhirnya Masuk juga...
Apanya lagi yang masuk? Aku gak pernah merasa keluar dari apapun. Aku juga tidak pernah merasa mendorong sesuatu hingga akhirnya itu masuk.

Ah, Akhirnya selesai juga...


RGB Digital Imaging, Kemang
12.07 WIB

Labels

ARIFA (1) Coretan (10) Emosi Jiwa (10) Fiksi (2) Minggu Pagi (4) Musik (10) Uncategorized (6)