Tuesday, June 18, 2013

Bad Blood : Kemeriahan Lain Inggris Raya ala Bastille

(Archives detikHOT)

Nama Bastille yang dipilih sebagai sebuah grup musik pendatang baru dari Inggris adalah pilihan yang pas. Mengingat keramaian unsur di album terbaru dan perdananya. Sekedar informasi, Bastille itu adalah sebuah perayaan nasional di Perancis pada tanggal 14 Juli, untuk mengenang hari dimana runtuhnya benteng Bastille yang dipandang sebagai pemberontakan bangsa modern.

Bertajuk Bad Blood, Bastille mencoba bergerak sejajar dengan musisi - musisi Inggris lainnya yang sudah lebih dulu mengukir nama. Mengusung genre elektronik pop, menjadikan Bastille sedikit berbeda dari band anak muda yang sudah ada.

Hampir semua materi dalam album ini begitu padat dengan suara - suara yang diciptakan oleh Dan Smith, Chris 'Woody' Wood, Kyle Simmons dan  Will Farquarson. Dibuka dengan track 1 yang berjudul Pompeii, Bastille sudah memberikan patokan dasar dalam bermusik ala mereka. Bunyi - bunyian perkusi dan melodi sudah menghentak sedari awal, belum lagi suara backing vocal yang unik di bagaian reff.

Begitu juga halnya terjadi di track - track selanjutnya, 'Things We Lost In The Fire', 'Bad Blood' dan 'Overjoyed' mash terdengar serupa, hanya ketukan yang sedikit berubah. 

Mungkin baru agar berbeda memasuki track 6, Wight of Living, Pt.II. Lagu ini terdengar catchy dengan nuansa disko ala Bastille yang tidak cepat tapi juga tidak lambat. Tentu dengan paduan suara techno khas britpop yang jika ditebak berasal dari semacam shyntisizer.

Hampir di akhir perjalanan 12 lagunya, ada sebuah track berjudul Oblivion yang terdengar berbeda. Bastille bermain dengan suasana sendu dan lembut di bagian ini.

Di debutnya ini, Bastille terasa ingin menanamkan betul ciri khas bermusik band yang baru terbentuk tahun 2010 ini. Tidak heran, Bastille tidak begitu bereksplorasi dengan kecanggihan perangkat digital yang mereka mainkan.

Tapi tetap saja album Bad Blood ini kemeriahaan baru musik Inggris Raya. Mungkin sudah waktunya ada yang menambahkan lagu mereka ke bawah Pet Shop Boys. Sesuai dengan namanya, Bastille berhasil menjadi pemberontak bangsa modern yang memperjuangkan kemeriahaan bermusik di Inggris Raya

Daftar lagu di album 'Bad Blood'

1. Pompeii
2. Things We Lost in the Fire
3. Bad Blood
4. Overjoyed
5. These Streets
6. Weight of Living, Pt. II
7. Icarus
8. Oblivion
9. Flaws
10. Daniel in the Den
11. Laura Palmer
12. Get Home
13. Weight of Living, Pt. I



RGB Class, Kemang
20.33 WIB

Monday, June 17, 2013

Kantor Berita Musik?

Bekerja sebagai seorang jurnalis musik adalah bagian dari passion hidup saya selama ini. Hobi menulis dan bermusik, tentu tidak akan susah ketika harus bekerja dengan tuntutan menulis apa pun yang berhubungan dengan musik, album baru, lagu baru, kolaborasi baru dan konser.

Bercerita tentang ini Saya jadi ingat ucapan Saya kepada seorang teman, "pengen banget nulis tentang musik, apapun!" Tentu menyenangkan ketika semua itu tercapai di tiga bulan terakhir ini. Ya, tiga bulan. Setelah lima tahun bertengkar demi mewujudkan semua ini terjadi. Setelah ratusan nada miring akan paradigma 'mau jadi apa seorang jurnalis'. Ya mau jadi jurnalis!

Tunggu dulu, jangan dulu kalian salutkan kemengan itu, karena ternyata semuanya tidak seindah seperti yang dibayangkan selama lima tahun terakhir. Alasannya? Jelas, menjadi jurnalis musik di sebuah kantor berita, hanya menjadi rubrik kecil dari kanal besar seluruh berita yang ditulis setiap harinya. Tolong jangan bayangkan suasana dimana semua orang begitu terlihat sebagai pengamat, alih - alih pengamat, Saya dan mereka yang ada di sana justru lebih menggambarkan orang - orang dengan semangat yang tertunda untuk idealisme bos besar yang sangat tinggi.

Menuliskan setidaknya 10 berita musik setiap hari sama sekali tidak menyulitkan, satu hal yang membuat semua itu berat adalah munculnya tokoh musik baru. Bagi Saya mereka bahkan belum bisa memainkan satupun alat musik. Bisa dibayangkan ketika seorang yang jelas - jelas lahir bukan untuk tujuh nada, hanya karena sebuah peristiwa Ring Back Tone (RBT), Saya harus mewawancaranya dan memasukannya ke dalam rubrik musik. Ini tidak fair!! Ditambah peristiwa itu harus didahulukan daripada sebuah band punk legendaris asal Amerika hanya karena mereka tidak punya pasar di Tanah Air ini.

Ada lagi satu peristiwa dimana Saya harus menuliskan tentang lima album dengan foto paling seksi yang pernah ada. Ini bagus untuk para kolektor dan penggemar mereka sendiri. Bagaimana dengan orang tua dan anak kecil dan mungkin saudara Saya yang membaca lalu menemukan nama Saya sebagai penulisnya. Ini tidak bagus! Dan kemudian mereka meminta Saya mengulanginya lagi untuk beberapa hari dengan tema yang hampir sama. Sepertinya begitu banyak orang yang bertambah pengetahuan bermusiknya karena tulisan itu. 

Sejujurnya Saya lebih mendambakan sebuah media musik yang sangat musik. Tidak dengan sesuatu yang berbau musik, tapi mendarah daging-kan musik. Musik itu soal jiwa dan rasa, bukan kaos band rock apa yang anda pakai hari ini. Bukan juga soal apakah si anu yang diorbitkan oleh si ini, padahal si anu dan ini sama sekali tidak bisa bernyanyi. Uang mereka yang bernyanyi.

Musik ini tidak seperti politik dimana banyak pelakunya bisa membohongi siapapun demi keuntungan material. Justru musik itu melatih kejujuran, jarang ada orang yang tidak bisa bernyanyi kemudian dikatakan bagus musikalitasnya, paling - paling dia tenar karena gosip. Penonton menilai langsung, penonton hadir langsung, penonton berdansa dan tepuk tangan!!!

Musisi adalah musisi. Bukan hanya anak band, bukan hanya penyanyi pria dan wanita. Terkadang justru sang pembetot bass dan penabuh drum. Musisi punya jiwa yang mengalunkan tujuh nada dan raga yang dengan irama yang menggelora. Jadi tolong jangan hanya bisa bernyanyi, lantas anda menjadi musisi. Jangan hanya karena jacket kulit anda menjadi seorang Mick Jagger.

Sekedar informasi, saya bekerja untuk sebuah media online terbesar di Indonesia. Dan di rubrik kecil itulah saya bercerita.


RGB Class, Kemang
19.38 WIB

Wednesday, May 22, 2013

Masa Lalu

Masih di tempat yang sama, dengan gelas susu yang sama dia mencoba membunuh malam. Kadang sekelibat asap putih berhembus tepat di depan wajahnya. Asap rokok tiada henti bergulir, entah sudah berapa batang.

Tidak tahu apa yang dia lihat, yang jelas matanya menerawang begitu sendu. Setidaknya itu yang terlihat di banyak malam terakhir.

Kios - kios sudah mengunci rapat pintu kacanya. Tersisa sebuah warung kecil di antara yang gelap. Apakah dia memang terbiasa menghabiskan malam sendiri? Tidakkah membosankan?

Tapi kali ini dingin malam ini begitu menusuk. Bahkan tak seorang Eskimo pun sanggup menerjang badai kabut pinggiran kota. Tapi dia sanggup. Apa dia berasal lebih jauh dari utara bumi?

Matahari semakin mendekat, tapi dia tak juga beranjak se-inci pun dari kursinya. Matanya masih liar di usianya yang sudah hampir tiga jam itu.

Apa yang sebenarnya telah dia lakukan?



Calibata Borneo / 10
03.00 WIB

Monday, May 20, 2013

'Save Rock and Roll' - Perjuangan Fall Out Boy Menyelematkan Dunia

(Archives detikHOT)

Fall Out Boy, tidak pernah dikenal sebagai band dengan semangat perjuangan atau aktivisme yang menggebu - gebu sejak kemunculannya 2001 silam. Fall Out Boy atau FOB dikenal sebagai sebuah band rock yang sedikit 'ngepunk' akibat bunyi dan 'kocokan' gitar denga lirik penuh makna cinta dan judul - judul lagu yang panjang.

Setidaknya deskripsi di atas berakhir sejak lahirnya album kelima mereka, 'Save Rock and Roll' tahun 2013 ini. Dari cover albumnya saja sudah terasa bahwa album ini akan begitu ambisius, dengan foto seorang anak Punk dan Monk (biksu kecil) yang menggambarkan bahwa sebuah perlawanan dan tradisi itu harus senada dan saling mendukung. Bagaimana dengan lagu -lagunya? Apakah kalian sudah siap mendengarkan emosi Pete Wentz Cs ini?

Dimulai dengan track andalan mereka 'The Phoenix' yang menceritakan bagaimana seharusnya anak muda tidak pernah berhenti berjuang, memperjuangkan segala haknya dari ketikadilan dunia. Lirik - lirik perlawanan begitu kental dari awal hingga akhir yang dibalut dengan musik rock bertempo cepat yang sedikit 'groovy'.

Lagu berikut kebalikan dari yang pertama, alunan musik latin terasa ketika lagu dimulai, kemudian disusul dengan warna elektronik rock yang bisa dibilang cukup berhasil membuat kepala bergoyang. 

Kreativitas berikutnya menyusul lagu 'Young Volcanoes', sebuah  lagu bernada klasik FOB yang mengisahkan bahwa anak muda adalah awal dari berakhirnya generasi tua, dengan sejuta semangat dan ide yang siap untuk meledak, 'we are like young volcanoes'.

Dalam penggarapan albumnya FOB sendiri berkolaborasi dengan beberapa musisi hebat, misalnya saja dengan Foxes pada lagu 'Just One Yesterday' dimana FOB terdebgar seperti Adelle dengan lirik yang sedikit menyindir penyanyi Inggris itu. Ada juga rapper Big Sean yang berkolaborasi lewat lagu 'The Mighty Fall'.

Namun mungkin yang cukup kontroversial adalah kolborasinya FOB dengan istri mendiang KUrt Cobain, Coutney Love pada lagu 'Rat A Tat'. Walaupun lirik yang aneh tapi harus diakui kolaborasi ini menciptakan musik yang 'catchy' untuk didengarkan. Suara berat Courtney dipadukan dengan suara tenor dari Patrick Stamp menjadikan lagu ini seolah - olah lagu patriotisme kelas bawah agar selalu berjuang.

Album ini kemudian ditutup oleh lagu yang berjudul sama dengan albumnya, 'Save Rock and Roll', berirama kolosal, lagu ini dinyanyikan berduet dengan penyanyi dan pianis kenamaan Elthon John. Bunyi piano Elthon sejak awal lagu yang membuat track ini begitu santai untuk dinikmati, tapi mempunyai bobot perjuangan yang berat di dalamnya.

FOB sengaja menjadikan lagu itu 'Save Rock and Roll' sebagai penutup dari seluruh kisah dan mimipi yang ingin dia capai. Lirik - lirik yang begitu membakar semangat bagi siapa pun yang mendengarkan lagu ini hingga bait terakhir.

Album kelima ini seperti metamorfosa FOB dari kebosanan atau kemuakan atas apa yang dituduhkan banyak orang kepada anak muda, bahwa anak muda itu perusak dan pembuat onar. FOB menggabungkan segala macam genre dalam 11 lagu, baik funk, punk, pop, elektro hingga rock.

Bohong jika dibilang bahwa album ini tidak punya ambisi, justru ini adalah album ambisius dari keberanian FOB tentang tanah leluhur, kesenangan dan perubahan.

Daftar lagu di Album 'Save Rock N Roll'

1. The Phoenix
2. My Songs Know What You Did in the Dark (Light Em Up)
3. Alone Together
4. Where Did the Party Go
5. Just One Yesterday
6. The Mighty Fall
7. Miss Missing You
8. Death Valley
9. Young Volcanoes
10. Rat a Tat (featuring Courtney Love)
11. Save Rock and Roll(featuring Elton John)

Monday, April 29, 2013

'What About Now' Bukan Melodi Terbaik Bon Jovi

(Archives detikHOT)


Sekilas penggambaran yang berbeda ketika pertama kali melihat cover album terbaru Bon Jovi ‘What About Now’ ini. Begitu bercorak dengan banyak grafis – grafis yang tidak biasa, hanya satu yang menandakan bahwa album itu benar punya Bon Jovi, gambar hati yang ditusuk dengan pedang sebagai ciri khas beberapa cover album band lawas tersebut.

Lebih dalam mendengarkan 12 lagu yang mengisi album itu, ada nuansa lain yang ditawarkan oleh Jon Bon Jovi (vokal), Richie Sambora (gitar), David Bryan (keyboard) dan Tico Torres (drum) kepada penikmatnya. Terasa sedikit demi sedikit musik khas Bon Jovi semakin menghilang.

Dibuka oleh track pertama yang juga hits jagoan mereka, ‘Because We Can’, lagu ini jelas menjadi single hits mereka dan mungkin siapa pun setuju. Alunan distori tipis ala Sambora dan ketukan drum Torres begitu merdu dan mengingatkan pendengarnya akan lagu – lagu Bon Jovi masa lalu.

Menyusul ‘I’m With You’ yang entah mengapa bunyi dan ‘kocokan’ gitar yang terdengar sedikit pop punk. Mungkin Sambora ingin bereksplorasi di lagu ini dan hasilnya, kurang pas dengan suara vokal dari Jon. Tema cinta dan lirik yang menyayat hati masih menjadi jagoan band yang berdiri sejak tahun 1983. Pada lagu ‘What About Now’, Bon Jovi terdengar sangat nyaman memainkan arransemen mereka, komposisi antar pemain yang pas di setiap bagian lagu menjadikan kerinduan tersendiri bagi fans setia Bon Jovi.

Ada dua lagu balada akustik yang juga memanjakan telinga, yaitu ‘Amen’ dan ‘The Fighter’. Di lagu ‘Amen’ sendiri terdengar ketulusan seorang laki – laki yang begitu bersyukur atas kekasih yang mencintainya, ”tidak ada kata – kata yang pantas diucapkan selaian ‘Amen’.” Penggalan lirik lagu tersebut.

Satu lagi eksplorasi band asal New Jersey ini, di lagu ‘What’s Left of Me’, ada instrumen yang terdengar seperi ukulele atau banjo sehingga muncul sentuhan country di bagian refrain. Tampaknya usia tidak pernah membatasi kreativitas opa – opa glamrock itu.

Beberapa lagu masih terdengar sangat Bon Jovi, tapi selebihnya seperti kurang dipoles, tidak bisa dibilang album yang istimewa. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Richie Sambora Cs ini tapi sejak album ‘The Circle’ 2009 silam, mereka seperti ingin beralih ke arah british pop ala Coldplay.

Bukan tanpa alasan, tak ada lagi petikan melodi ala Sambora seperti lagu ‘This Ain’t A Love Song’ atau distorsi tipis tapi padat seperti lagu ‘Bed of Roses’. Ketukan drum juga tidak lagi perpaduan ‘tom 1’, ‘tom 2’ dan ‘floor tom’, sekarang terdengar lebih stagnan hanya dengan ‘snare’ dan ‘bass drum’.

Meskipun album ini bukan melodi terbaik Bon Jovi, tapi Bon Jovi tetaplah Bon Jovi, tidak ada satupun yang menyerupai dan mencapai kesuksesan yang pernah mereka raih. Album ini sebetulnya adalah pertanyaan Bon Jovi terhadap seluruh dunia, apakah kami masih bisa bertahan? Apakah kalian masih mencintai karya baru kami? ‘What about now?’

Daftar lagu di album 'What About Now'


1. Because We Can
2. I'm With You
3. What About Now
4. Pictures of You
5. Amen
6. That's What the Water Made Me
7. What's Left of Me
8. Army of One
9. Thick as Thieves
10.Beautiful World
11.Room at the End of the World
12.The Fighter

Thursday, April 11, 2013

We Will Bleed The Movie : Revolusi dan Kemenangan 'Burgerkill'

(Archives detikHOT)
Tidak pernah terbayangkan bagi saya saat pertama kali memutar piringan CD berjudulkan We Will Bleed, sebuah film dokumenter tentang sejarah band metal paling berbahaya di Tanah Air, Burgerkill. Suasana layar hitam dibarengi dengan backsound mistis adalah kesan pertama yang dikeluarkan.

Seruan ‘BURGERKILL…’ –  ‘BURGERKILL….’ – ‘BURGERKILL…’ disambut hentakan kick bass dengan kecepatan tak terkira ditambah beratnya distorsi gitar. Setidaknyaitulah sedikit penggambaran saya pada saat menonton film ini, banyak emosi yangdicampur aduk disini, sesaat anda akan menjadi liar mengikuti anggukan kepala,tapi kemudian anda akan dihancurkan dengan emosi dan haru yang tidakterperikan. Here we come. This is our music and we will bleed for this.

Judul film We Will Bleed inisebenarnya diambil dari judul lagu Burgerkill sendiri di album ketiga mereka. Filmini mengisahkan tentang perjalanan, perubahan dan kemenangan sebuah bandhardcore asal Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat hingga 15 tahun berkarya baiknasional sampai internasional.

Di pertengahan tahun 1995terbentuklah sebuah grup band hardcore dari Ujung Berung, sebuah wilayah kecildi Bandung yang mungkin orang Indoenesia sendiri tidak tahu. Grup ini digawangioleh Ebenz (Gitar), Kimung (Bass), Kudung (Drum) dan Ivan (Vokal) yang kemudianmenamai dirinya Burgerkill, inilah formasi awal Burgerkill kala itu, setidaknyasampai tiga tahun kemudian. Dengan semua semangat dan keterbatasan akhirnyaBurgerkill berhasil merilis album pertamanya bersama label Riotic Records, yangbertajuk ‘Dua Sisi’ di tahun 1998. “Saat itu memang belum banyak label metalatau hardcore di Bandung, salah satu yang sudah punya nama adalah RioticRecords ini,” ujar Ebenz menjelaskan mengapa mereka memilih Riotic Records.

Tidak berarti semuanya lancar,terjadi bongkar pasang personil setelah album pertama ini, sampai di tahun 2003formasi baru Burgerkill adalah Ivan (vokal), Ebenz (Gitar), Agung (Gitar),Andris (Bass) dan Toto (Drum). Setelah istirahat dari rangkaian promosi doBandung dan Jakarta, tahun 2003 ini Burgerkill telah segar kembali untukmerilis album kedua mereka, ‘Berkarat’. Ide cemerlang yang mucul membuatBurgerkill menginginkan sebuah single yang dinyanyikan berduet dengan Fadly‘Padi’. Tidak akan terbayangkan sebuah genre pop bersatu dengan musik hardcoresecara vokal, bagi saya ini adalah ide di luar akal sehat dan juga sangatjenius.

Sambutan baik dari Fadly akhirnyamelahirkan single fenomenal dan cukup jadi perbincangan di kalangan musisi, berjudul‘Tiga Titik Hitam’. Seakan membawa keberuntungan, sewaktu proses ‘Tiga TitikHitam’ justru Burgerkill dilamar oleh Sony Music Indonesia untuk melanjutkanproses produksi album keduanya bersama – sama. Setelah menandatangani berkas –berkas, Burgerkill (BK) mulai menjalani proses rekaman dan merilis albumkeduanya, ‘Berkarat’ di Bulan Januari 2004. Tidak ada kerja keras tanpa hasil,di tahun yang sama BK mendapatkan penghargaan AMI Awards sebagai pemenangkategori ‘Best Metal Production’.

Memasuki tahun 2005 langkah BKmulai tertata dengan rapi, mereka yakin pada recananya untuk merilis albumketiga mereka tahun ini. Tetapi kemudian masalah kembali muncul, putusnyakontrak kerjasam dengan Sony Music Indonesia dan keluarnya drummer andalanmenjadi problema baru BK di tahun ini. Cepat mengambil langkah, anak – anakmuda Ujung Berung melakukan manuver dengan mendirikan label sendiri ‘RevoltRecords’ kemudia merekam sendiri album ketiganya, berjudul ‘Beyond Coma andDespair’.

Tepat dua minggu setelah konserpromo album ini, sang vokalis Ivan Scumbag harus menyerah pada penyakit yangsudah dilawan hampir di seluruh sisa hidupnya. Meninggalnya Ivan tak pelakmembuat kesedihan mendalam, sebuah konser tanpa vokal diselenggarakan BK untukmengenang sang vokalis.

Album ketiga menjadi pembuktianloyalitas BK terhadap scene metal tanah air, dalam kondisi yang masih dirudungduka, BK justru mendapt berbagai pujian dan sanjungan, tidak ada sedikit puncelah untuk mengkritik album ini. Teman – teman musisi dan pengamat musikmenyerukan satu suara setuju, “Burgerkill memberikan patokan bahwa musik metalya seperti ini. Album ‘Beyond Coma and Despair’ adalah panduan bagi siapaunyang ingin main musik metal.” Ujar Arian 13, vokalis band Seringai. Tidakberhenti disitu, majalah musik Rolling Stone Indonesia menobatkan album ‘BeyondComa and Despair’ sebagai bagian dari 20 album terbaik Indonesia tahun 2006.

Di tahun 2007, BK sukses melakukansebuah konser tur pertama kali Jawa dan Bali untuk album ‘Beyond Coma andDespair’ serta persembahan untuk almarhum Ivan. Ternyata respon yang cukuppositif diterima dari kota –kota yang dikunjungi. Satu hal menarik dalam konsertur ini adalah, terlihat keakraban yang sangat kental sesama personil bandmetal di Bandung, terbukti dengan turut sertanya personil dari band metal lainsepeti Jasad dan Disinfected untuk membantu penjualan merchandise atau sekedardokumentasi.

12 tahun bersama – sama tidakmudah untuk BK menggantikan posisi Ivan, tapi ini harus segera dilakukanmengingat sebuah konser tur Jawa dan Bali telah siap digelar. Audisi vokaliskemudian memilih Vicky, seorang fans yang kemudian didaulat menjadi vokalisutama. Bersama formasi baru dan terakhir Vicky (Voka) Ebenz (GItar), Agung(Gitar), Ramdan (Bass) dan Andris (Drum), BK mencoba peruntungan dengan menjadipengisi soundtrack di dua film horor Indonesia, yaitu Malam Jumat Kliwon danHantu Jeruk Purut. Tak ayal kesuksesan BK dan album ‘Beyond Coma and Despair’kembali dilirik oleh Rolling Stone Indonesia dan dinobatkan menjadi salah satudari 150 album terbaik sepanjang masa, “album ini dibuat secara militansi danbernafaskan darah dan air mata, kita nggak bisa meng-ignore ini.” Jelas WendyPutranto Executive Editor Rolling Stone Indonesia.

Tahun 2007 inilah yang menurutsaya adalah awal masa keemasan BK, bongkar pasang personil dan kematian telahdilalui sudah saatnya menikmati hasil kerja keras ini. Awal mula karir BK dikancah internasional adalah ketika mereka menjadi band pembuka konser The BlackDahlia Murder (2007) dan As I Lay Dying (2008) di Jakarta, yang mana tepatsetahun sesudahnya, BK sudah berada di Australia untuk menggelar konser turbertajuk, ‘Burgerkill Australian Tour 2009’.

Tidak berselang lama dari turAustralianya, BK mendapatkan undangan spesial untuk menjadi salah satu banddalam festival musik ‘Soundwave 2009’. BK bekerjasama dengan XenophobicEntertainment yang bertindak sebagai manajemen BK di Aussie.  Perlu diketahui Soundawave adalah salah satufestival musik besar di Australia yang menghadirkan musik rock, punk dan metal.Sukses menghajar ‘Australians Boys’ BK langsung menghentak Kuala Lumpur, JohorBaru, Singapura dan ditutup dengan konser di Ipoh dalam rangkaian tur Malaysiadan Singapura Mei 2009.

Perjalanan 15 tahun BK sampai2010 ditutup sangat manis dengan tampilnya BK di festival musik terbesar diAustralia, ‘Big Day Out’. Didaulat bermain di festival musik sebesar itu bagaikan mimpi yang menjadikenyataan, tidak hanya untuk BK tapi juga untuk teman – teman seprofesi. Duahari sebelum hari-H BK menjalani pre-event di dua panggung di Asutralia,barulah hari ketiga BK menghajar Australia di musim panas saat itu. ‘Big DayOut 2010’ adalah pencapaian terbesar BK saat itu, tidak ada yang bisamenyangkalnya, satu – satunya band Indonesia yang bermain disana, ini  40 menit yang mencetak sejarah dalam scenemetal Ibu Pertiwi.

“Kami tidak pernah membayangkan akan menjadi sebesar ini. Kita hanya ingin eksplorasi dan bersenang – senang atas apa yang kami kerjakan.”

Wednesday, March 6, 2013

Morat Marit Maret

GILA!! Sudah sampai saja di bulan ketiga tahun ini. Sama sekali tidak menyadari mengapa begitu cepatu waktu maju, lebih cepat dari kumis dan jenggot yang baru dipotong. Masih tertulis di benakku walaupun sudah mulai pudar, banyak titik - titik yang ingin ku capai sehingga nanti akan menggambarkan garis panjang kehidupan. Jika saat ini ada yang bertanya sudah berapa panjang garis itu, Aku akan menjawab "tidak lebih panjang dari rambut seorang perempuan Indonesia." Tidak jelek menurutku. Sebenarnya ketika Aku membuka halaman dan menulis ini, Aku berniat untuk tidak menceritakan apapun tentang diriku. Memang ini bukuku, ini halamanku, ini jemariku, tapi ini tidak melulu tentangku yang menghabiskan waktu di kursi empuk nan rupawan, menunggu datangnya senja lalu kembali pulang mencoba merakit puzzle otakku, mengingat apa sebenarnya hasratku. Oh maafkan Aku kawan, sudah tersebutkan. Lebih baik ku lanjutkan.

Bulan ini kulkas di rumahku kosong, tidak seremah pun tertinggal selain remah es batu. Tau mengapa? Aku yang mengosongkannya kemarin. Aku lelah dengan tempat tidurku yang panas dan bau tembakau. Aku mau  selalu dingin di tengah isu global warming yang Aku sendiri sudah tak ingin peduli. Kamarku sesak! Setiap malam belasan orang datang, berkumpul, tertawa, bernyanyi dan berdansa. Bahkan lebih sempit dari semua ruang penjara yang ada di negara ini.

Bak mandiku bocor karena semen penahannya sudah berjamur. Mungkin dulu kualitasnya tidak sebagus saat ini. Tapi ini berbeda dengan rambut. Belum pernah ku lihat rambut perempuan saat ini, sehitam dan selebat rambut Ibuku, perempuan 1963. Dewasa ini perempuan terbelalak dengan fatamorgana kehitaman dan kelebatan rambut. Bukan masalah besar selama kalian tidak terperangkap di dalamnya. Seperti terperangkap dalam kemacetan senayan, bisa habis semua bulu di kepala.

Mobilku rusak lagi, entah apa sekarang yang merusaknya. Tetapi Aku tidak percaya jika ternyata yang melakukan adalah gerombolan anak bocah kecil yang basah karena Tuhan menangis lagi. Tuhan sedih cintaNya tak berbalas, tak satupun. Sang Kekasih tak mampu menjaga keindahan kembang - kembangNya. Tak kuat menahan gempuran penguasa hingga hancurlah pagar - pagar besi tata negaraNya. Sang Kekasih juga tak berdaya melawan perompak, tak berdaya hingga mengorbankan cintaNya.

Tuhan sedih wahai Maret...

Labels

ARIFA (1) Coretan (10) Emosi Jiwa (10) Fiksi (2) Minggu Pagi (4) Musik (10) Uncategorized (6)