Monday, April 29, 2013

'What About Now' Bukan Melodi Terbaik Bon Jovi

(Archives detikHOT)


Sekilas penggambaran yang berbeda ketika pertama kali melihat cover album terbaru Bon Jovi ‘What About Now’ ini. Begitu bercorak dengan banyak grafis – grafis yang tidak biasa, hanya satu yang menandakan bahwa album itu benar punya Bon Jovi, gambar hati yang ditusuk dengan pedang sebagai ciri khas beberapa cover album band lawas tersebut.

Lebih dalam mendengarkan 12 lagu yang mengisi album itu, ada nuansa lain yang ditawarkan oleh Jon Bon Jovi (vokal), Richie Sambora (gitar), David Bryan (keyboard) dan Tico Torres (drum) kepada penikmatnya. Terasa sedikit demi sedikit musik khas Bon Jovi semakin menghilang.

Dibuka oleh track pertama yang juga hits jagoan mereka, ‘Because We Can’, lagu ini jelas menjadi single hits mereka dan mungkin siapa pun setuju. Alunan distori tipis ala Sambora dan ketukan drum Torres begitu merdu dan mengingatkan pendengarnya akan lagu – lagu Bon Jovi masa lalu.

Menyusul ‘I’m With You’ yang entah mengapa bunyi dan ‘kocokan’ gitar yang terdengar sedikit pop punk. Mungkin Sambora ingin bereksplorasi di lagu ini dan hasilnya, kurang pas dengan suara vokal dari Jon. Tema cinta dan lirik yang menyayat hati masih menjadi jagoan band yang berdiri sejak tahun 1983. Pada lagu ‘What About Now’, Bon Jovi terdengar sangat nyaman memainkan arransemen mereka, komposisi antar pemain yang pas di setiap bagian lagu menjadikan kerinduan tersendiri bagi fans setia Bon Jovi.

Ada dua lagu balada akustik yang juga memanjakan telinga, yaitu ‘Amen’ dan ‘The Fighter’. Di lagu ‘Amen’ sendiri terdengar ketulusan seorang laki – laki yang begitu bersyukur atas kekasih yang mencintainya, ”tidak ada kata – kata yang pantas diucapkan selaian ‘Amen’.” Penggalan lirik lagu tersebut.

Satu lagi eksplorasi band asal New Jersey ini, di lagu ‘What’s Left of Me’, ada instrumen yang terdengar seperi ukulele atau banjo sehingga muncul sentuhan country di bagian refrain. Tampaknya usia tidak pernah membatasi kreativitas opa – opa glamrock itu.

Beberapa lagu masih terdengar sangat Bon Jovi, tapi selebihnya seperti kurang dipoles, tidak bisa dibilang album yang istimewa. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Richie Sambora Cs ini tapi sejak album ‘The Circle’ 2009 silam, mereka seperti ingin beralih ke arah british pop ala Coldplay.

Bukan tanpa alasan, tak ada lagi petikan melodi ala Sambora seperti lagu ‘This Ain’t A Love Song’ atau distorsi tipis tapi padat seperti lagu ‘Bed of Roses’. Ketukan drum juga tidak lagi perpaduan ‘tom 1’, ‘tom 2’ dan ‘floor tom’, sekarang terdengar lebih stagnan hanya dengan ‘snare’ dan ‘bass drum’.

Meskipun album ini bukan melodi terbaik Bon Jovi, tapi Bon Jovi tetaplah Bon Jovi, tidak ada satupun yang menyerupai dan mencapai kesuksesan yang pernah mereka raih. Album ini sebetulnya adalah pertanyaan Bon Jovi terhadap seluruh dunia, apakah kami masih bisa bertahan? Apakah kalian masih mencintai karya baru kami? ‘What about now?’

Daftar lagu di album 'What About Now'


1. Because We Can
2. I'm With You
3. What About Now
4. Pictures of You
5. Amen
6. That's What the Water Made Me
7. What's Left of Me
8. Army of One
9. Thick as Thieves
10.Beautiful World
11.Room at the End of the World
12.The Fighter

Thursday, April 11, 2013

We Will Bleed The Movie : Revolusi dan Kemenangan 'Burgerkill'

(Archives detikHOT)
Tidak pernah terbayangkan bagi saya saat pertama kali memutar piringan CD berjudulkan We Will Bleed, sebuah film dokumenter tentang sejarah band metal paling berbahaya di Tanah Air, Burgerkill. Suasana layar hitam dibarengi dengan backsound mistis adalah kesan pertama yang dikeluarkan.

Seruan ‘BURGERKILL…’ –  ‘BURGERKILL….’ – ‘BURGERKILL…’ disambut hentakan kick bass dengan kecepatan tak terkira ditambah beratnya distorsi gitar. Setidaknyaitulah sedikit penggambaran saya pada saat menonton film ini, banyak emosi yangdicampur aduk disini, sesaat anda akan menjadi liar mengikuti anggukan kepala,tapi kemudian anda akan dihancurkan dengan emosi dan haru yang tidakterperikan. Here we come. This is our music and we will bleed for this.

Judul film We Will Bleed inisebenarnya diambil dari judul lagu Burgerkill sendiri di album ketiga mereka. Filmini mengisahkan tentang perjalanan, perubahan dan kemenangan sebuah bandhardcore asal Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat hingga 15 tahun berkarya baiknasional sampai internasional.

Di pertengahan tahun 1995terbentuklah sebuah grup band hardcore dari Ujung Berung, sebuah wilayah kecildi Bandung yang mungkin orang Indoenesia sendiri tidak tahu. Grup ini digawangioleh Ebenz (Gitar), Kimung (Bass), Kudung (Drum) dan Ivan (Vokal) yang kemudianmenamai dirinya Burgerkill, inilah formasi awal Burgerkill kala itu, setidaknyasampai tiga tahun kemudian. Dengan semua semangat dan keterbatasan akhirnyaBurgerkill berhasil merilis album pertamanya bersama label Riotic Records, yangbertajuk ‘Dua Sisi’ di tahun 1998. “Saat itu memang belum banyak label metalatau hardcore di Bandung, salah satu yang sudah punya nama adalah RioticRecords ini,” ujar Ebenz menjelaskan mengapa mereka memilih Riotic Records.

Tidak berarti semuanya lancar,terjadi bongkar pasang personil setelah album pertama ini, sampai di tahun 2003formasi baru Burgerkill adalah Ivan (vokal), Ebenz (Gitar), Agung (Gitar),Andris (Bass) dan Toto (Drum). Setelah istirahat dari rangkaian promosi doBandung dan Jakarta, tahun 2003 ini Burgerkill telah segar kembali untukmerilis album kedua mereka, ‘Berkarat’. Ide cemerlang yang mucul membuatBurgerkill menginginkan sebuah single yang dinyanyikan berduet dengan Fadly‘Padi’. Tidak akan terbayangkan sebuah genre pop bersatu dengan musik hardcoresecara vokal, bagi saya ini adalah ide di luar akal sehat dan juga sangatjenius.

Sambutan baik dari Fadly akhirnyamelahirkan single fenomenal dan cukup jadi perbincangan di kalangan musisi, berjudul‘Tiga Titik Hitam’. Seakan membawa keberuntungan, sewaktu proses ‘Tiga TitikHitam’ justru Burgerkill dilamar oleh Sony Music Indonesia untuk melanjutkanproses produksi album keduanya bersama – sama. Setelah menandatangani berkas –berkas, Burgerkill (BK) mulai menjalani proses rekaman dan merilis albumkeduanya, ‘Berkarat’ di Bulan Januari 2004. Tidak ada kerja keras tanpa hasil,di tahun yang sama BK mendapatkan penghargaan AMI Awards sebagai pemenangkategori ‘Best Metal Production’.

Memasuki tahun 2005 langkah BKmulai tertata dengan rapi, mereka yakin pada recananya untuk merilis albumketiga mereka tahun ini. Tetapi kemudian masalah kembali muncul, putusnyakontrak kerjasam dengan Sony Music Indonesia dan keluarnya drummer andalanmenjadi problema baru BK di tahun ini. Cepat mengambil langkah, anak – anakmuda Ujung Berung melakukan manuver dengan mendirikan label sendiri ‘RevoltRecords’ kemudia merekam sendiri album ketiganya, berjudul ‘Beyond Coma andDespair’.

Tepat dua minggu setelah konserpromo album ini, sang vokalis Ivan Scumbag harus menyerah pada penyakit yangsudah dilawan hampir di seluruh sisa hidupnya. Meninggalnya Ivan tak pelakmembuat kesedihan mendalam, sebuah konser tanpa vokal diselenggarakan BK untukmengenang sang vokalis.

Album ketiga menjadi pembuktianloyalitas BK terhadap scene metal tanah air, dalam kondisi yang masih dirudungduka, BK justru mendapt berbagai pujian dan sanjungan, tidak ada sedikit puncelah untuk mengkritik album ini. Teman – teman musisi dan pengamat musikmenyerukan satu suara setuju, “Burgerkill memberikan patokan bahwa musik metalya seperti ini. Album ‘Beyond Coma and Despair’ adalah panduan bagi siapaunyang ingin main musik metal.” Ujar Arian 13, vokalis band Seringai. Tidakberhenti disitu, majalah musik Rolling Stone Indonesia menobatkan album ‘BeyondComa and Despair’ sebagai bagian dari 20 album terbaik Indonesia tahun 2006.

Di tahun 2007, BK sukses melakukansebuah konser tur pertama kali Jawa dan Bali untuk album ‘Beyond Coma andDespair’ serta persembahan untuk almarhum Ivan. Ternyata respon yang cukuppositif diterima dari kota –kota yang dikunjungi. Satu hal menarik dalam konsertur ini adalah, terlihat keakraban yang sangat kental sesama personil bandmetal di Bandung, terbukti dengan turut sertanya personil dari band metal lainsepeti Jasad dan Disinfected untuk membantu penjualan merchandise atau sekedardokumentasi.

12 tahun bersama – sama tidakmudah untuk BK menggantikan posisi Ivan, tapi ini harus segera dilakukanmengingat sebuah konser tur Jawa dan Bali telah siap digelar. Audisi vokaliskemudian memilih Vicky, seorang fans yang kemudian didaulat menjadi vokalisutama. Bersama formasi baru dan terakhir Vicky (Voka) Ebenz (GItar), Agung(Gitar), Ramdan (Bass) dan Andris (Drum), BK mencoba peruntungan dengan menjadipengisi soundtrack di dua film horor Indonesia, yaitu Malam Jumat Kliwon danHantu Jeruk Purut. Tak ayal kesuksesan BK dan album ‘Beyond Coma and Despair’kembali dilirik oleh Rolling Stone Indonesia dan dinobatkan menjadi salah satudari 150 album terbaik sepanjang masa, “album ini dibuat secara militansi danbernafaskan darah dan air mata, kita nggak bisa meng-ignore ini.” Jelas WendyPutranto Executive Editor Rolling Stone Indonesia.

Tahun 2007 inilah yang menurutsaya adalah awal masa keemasan BK, bongkar pasang personil dan kematian telahdilalui sudah saatnya menikmati hasil kerja keras ini. Awal mula karir BK dikancah internasional adalah ketika mereka menjadi band pembuka konser The BlackDahlia Murder (2007) dan As I Lay Dying (2008) di Jakarta, yang mana tepatsetahun sesudahnya, BK sudah berada di Australia untuk menggelar konser turbertajuk, ‘Burgerkill Australian Tour 2009’.

Tidak berselang lama dari turAustralianya, BK mendapatkan undangan spesial untuk menjadi salah satu banddalam festival musik ‘Soundwave 2009’. BK bekerjasama dengan XenophobicEntertainment yang bertindak sebagai manajemen BK di Aussie.  Perlu diketahui Soundawave adalah salah satufestival musik besar di Australia yang menghadirkan musik rock, punk dan metal.Sukses menghajar ‘Australians Boys’ BK langsung menghentak Kuala Lumpur, JohorBaru, Singapura dan ditutup dengan konser di Ipoh dalam rangkaian tur Malaysiadan Singapura Mei 2009.

Perjalanan 15 tahun BK sampai2010 ditutup sangat manis dengan tampilnya BK di festival musik terbesar diAustralia, ‘Big Day Out’. Didaulat bermain di festival musik sebesar itu bagaikan mimpi yang menjadikenyataan, tidak hanya untuk BK tapi juga untuk teman – teman seprofesi. Duahari sebelum hari-H BK menjalani pre-event di dua panggung di Asutralia,barulah hari ketiga BK menghajar Australia di musim panas saat itu. ‘Big DayOut 2010’ adalah pencapaian terbesar BK saat itu, tidak ada yang bisamenyangkalnya, satu – satunya band Indonesia yang bermain disana, ini  40 menit yang mencetak sejarah dalam scenemetal Ibu Pertiwi.

“Kami tidak pernah membayangkan akan menjadi sebesar ini. Kita hanya ingin eksplorasi dan bersenang – senang atas apa yang kami kerjakan.”

Wednesday, March 6, 2013

Morat Marit Maret

GILA!! Sudah sampai saja di bulan ketiga tahun ini. Sama sekali tidak menyadari mengapa begitu cepatu waktu maju, lebih cepat dari kumis dan jenggot yang baru dipotong. Masih tertulis di benakku walaupun sudah mulai pudar, banyak titik - titik yang ingin ku capai sehingga nanti akan menggambarkan garis panjang kehidupan. Jika saat ini ada yang bertanya sudah berapa panjang garis itu, Aku akan menjawab "tidak lebih panjang dari rambut seorang perempuan Indonesia." Tidak jelek menurutku. Sebenarnya ketika Aku membuka halaman dan menulis ini, Aku berniat untuk tidak menceritakan apapun tentang diriku. Memang ini bukuku, ini halamanku, ini jemariku, tapi ini tidak melulu tentangku yang menghabiskan waktu di kursi empuk nan rupawan, menunggu datangnya senja lalu kembali pulang mencoba merakit puzzle otakku, mengingat apa sebenarnya hasratku. Oh maafkan Aku kawan, sudah tersebutkan. Lebih baik ku lanjutkan.

Bulan ini kulkas di rumahku kosong, tidak seremah pun tertinggal selain remah es batu. Tau mengapa? Aku yang mengosongkannya kemarin. Aku lelah dengan tempat tidurku yang panas dan bau tembakau. Aku mau  selalu dingin di tengah isu global warming yang Aku sendiri sudah tak ingin peduli. Kamarku sesak! Setiap malam belasan orang datang, berkumpul, tertawa, bernyanyi dan berdansa. Bahkan lebih sempit dari semua ruang penjara yang ada di negara ini.

Bak mandiku bocor karena semen penahannya sudah berjamur. Mungkin dulu kualitasnya tidak sebagus saat ini. Tapi ini berbeda dengan rambut. Belum pernah ku lihat rambut perempuan saat ini, sehitam dan selebat rambut Ibuku, perempuan 1963. Dewasa ini perempuan terbelalak dengan fatamorgana kehitaman dan kelebatan rambut. Bukan masalah besar selama kalian tidak terperangkap di dalamnya. Seperti terperangkap dalam kemacetan senayan, bisa habis semua bulu di kepala.

Mobilku rusak lagi, entah apa sekarang yang merusaknya. Tetapi Aku tidak percaya jika ternyata yang melakukan adalah gerombolan anak bocah kecil yang basah karena Tuhan menangis lagi. Tuhan sedih cintaNya tak berbalas, tak satupun. Sang Kekasih tak mampu menjaga keindahan kembang - kembangNya. Tak kuat menahan gempuran penguasa hingga hancurlah pagar - pagar besi tata negaraNya. Sang Kekasih juga tak berdaya melawan perompak, tak berdaya hingga mengorbankan cintaNya.

Tuhan sedih wahai Maret...

Wednesday, February 27, 2013

Hujan

Sudah begitu lama sejak badai musim ini reda
Sejak air membawa serta tanah dan batu untuk melawan manusia
Sekarang daun - daun sudah tumbuh kembali
Pertanda tanah dan batu rela mengalah disinari mentari

Bertumpuk bait masih menggantung di dahi
Letupan kata dalam frase dan semangat
Hilang seketik diserbu hitam yang pekat
Habis terkikis tali - tali yang tidak berarti

Binatang tertawa, binatang bercinta
Air langit turun membasahi khalifahnya
Menghapus bersih semak luka dan angkara
Mengalir, mengalir dan mengalirlah


RGB Class
12.12 WIB

Monday, February 11, 2013

A Lyrical

I know this is never be my pleasure to write something like this, song lyric, someone poems and else. BUT, this is not be just a song for me. Its better be my feeling that i can't never sing. If I have to say the words about him, maybe this is it. This is a song from Cat Stevens - Father & Son, who covered by Johnny Cash & Fiona Apple


It's not time to make a change,
Just relax, take it easy.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

I was once like you are now, and I know that it's not easy,
To be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you've got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.

How can I try to explain, when I do he turns away again.
It's always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

It's not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
if you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
It's hard, but it's harder to ignore it.
If they were right, I'd agree, but it's them you know not me.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.



Rgb Digital Imaging
15.06 WIB

Saturday, February 9, 2013

Kaca

Aku lupa kapan pertama kali Aku menyadari bahwa Aku seorang anak laki- laki yang mempunyai cita - cita. Ketika duduk di Sekolah Dasar sebuah kota kecil Aku ingat betul Aku tidak ingin menjadi apa - apa selain seperti dia, bapakku. Menjadi seorang pekerja keras di sebuah perusahaan yang keras. Bekerja dari Pagi sampai sore atau sore hingga tengah malam dan terkadang dimulai saat hari mulai menghitam sampai matahari akhirnya bersinar lagi. Terlihat sempurna untukku saat itu. Namun semuanya berbeda ketika aku memasuki dunia Sekolah Menengah Pertama. 

Aku mengenal musik sejak telingaku bahkan belum bisa menyadarkan panggilan kedua orang tuaku. Sejak telingaku bahkan belum tergerak sedikitpun ketika guruku berbicara tentang bagaimana Jendral Soedirman memimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tapi Aku sudah bisa mendengarkan alunan musik dari banyak band Amerika dan Inggris. Aneh. Tapi kemudian hal itu sangat meresap ke dalam seluruh elemen hidupku. Setiap sendi yang bergerak dan setiap jiwa yang melayang mengikuti arus pikiran yang sering berlari sendiri.

Aku berjalan sendiri tanpa siapa pun pendamping. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika rahim yang melahirkanmu dan tangan yang memberimu makan tidak pernah berjalan mendampingi. Apakah in sebuah kesalahan besar, seperti seorang anak yang membunuh karena sebuah ejekan? Aku tidak tahu kenapa sampai hari Aku menuliskan ini, alasan dibalik semua kejahatan cinta yang dilakukan mereka. Aku tidak salah. Aku tidak melakukan apa - apa. Aku hanya berjalan terkadang berlari dan tak jarang terjatuh. Dengan segala hormat Aku pergi meninggalkan untuk sebuah harta karun yang bahkan Aku sendiri tidak menginginkannya. Jakarta.

Kekerasan kota ini tidak menjuga menghancurkan batu - batu yang sudah ku susun rapi untuk sebuah perjalanan musik. Walaupun kota ini juga tidak membantu menguatkannya sama sekali. Suara - suara yang ku dengar justru semakin lantang, tak terkecuali. Aku melawan, Aku katakan kepada isi bumi dan angkasa kalau apa yang seharusnya terjadi bukan yang saat ini terjadi. Aku cuma ingin ini, Aku punya jalan dan lenteraku sendiri. Biarkan aku mengalun dalam tujuh tangga nada selamanya.

Aku duduk di atas sebuah perahu kayu reyot di sebuah danau kecil. Melihat permukaan air yang memantulkan bentuk dua wajah yang beradu dengan riak - riak kecil. "Aku tidak ingin melawan, Aku hanya mencoba meneruskan"


Kedai Kemang
15.07 WIB

Tuesday, January 8, 2013

Perempuan Bar #2

Melangkahkan kaki dia di sana. Mengibas pintu kayu reyot bak wanita mengibaskan rambut hitam panjangnya. Tidak terlalu tinggi tapi lebih putih dari perempuan kebanyakan malam ini. Mahkota hitam di atas kepalanya tak terlalu panjang, hanya sedikit menutupi telinga. Bagian paling menariknya adalah, beberapa bagian tubuhnya ditutupi gambar - gambar kehidupan nan indah. Sebentar... Oh dia juga membawa serta tas kecil hitam yang disandang di atas bahunya. Tidakkah menarik? 

Dengan gontai berjalan pelan, mengikuti alunan musik yang senada dengan gerakan pantatnya yg cukup menggoda. Celana pendek jeans mencoba menutupi dua buah daging putih mulus pahanya. Dibiarkannya mata - mata hitam di sana mendelik menikmati salah satu dua jenjang kaki terbaik ciptaan Tuhan. Oh... Silakan kalian agungkan nama Tuhan kalian masing - masing. 

Bagaimana denganku? Untuk pertama kali aku begitu khusyu memanjatkan permohonan kepada Tuhanku. Bukan untuk menjadikanku lebih baik atau memberiku rezeki yang berlimpah. Aku memohon agar memberikan perempuan itu sebuah petunjuk agar dia memilih kursi keberuntungannya, kursi di sebelahku. Semakin kuat suara derap langkahnya terdengar olehku. Ini bagaikan momen dimana Houdini mengucapkan semua mantra - mantranya saat dia mencoba melepaskan diri di dalam air. Begitulah yang Aku lakukan, mengucapkan semua doa yang ku hafal sampai akhirnya kurasakan hembus nafas yang mengikuti suara parau nan feminim, "satu shoot scotch!" Mulai saat itu Aku memutuskan untuk menghabiskan setengah lebih botol beer-ku, dengan tersedak tentunya, lalu  turut juga memesan scotch yang bahkan Aku sendiri tak yakin ada kandungan alkohol macam apa di dalamnya.

Aku berfikir apa yang harus Aku katakan pertama untuk memulai topik pembicaraan. Aku bukan tipe laki - laki tangguh, gagah dan berani untuk hal ini. Lebih baik hadapkan saja Aku pada seekor harimau maka Aku pasti tau cara melawannya. Kemudia Aku coba berandai - andai, jika Aku mengatakan "Halo, tas kamu terbuka" maka salah satu respon yang muncul adalah, "Hey kamu maling!" dan dampak yang juga akan muncul adalah babak - belur. Kemudia jika Aku memulai dengan "Aku teraktir kamu minum?" maka respon berikutnya adalah, "Pervert!!!" dan dampak yang juga mungkin terjadi Sang Perempuan pergi kepada laki - laki blusukan di meja sebelah kiri.

Okay. Aku harus memulainya. Aku harus memulainya. Aku akan memulainya dengan..."eh halo, kok dari tadi terlihat bingung. Ada yang bisa aku bantu?" "Oh tidak, Aku hanya sedang menikmati whisky ini" "Kamu jangan bercanda, bahkan kamu tidak mencoba menenggaknya dari tadi!" Dengan terbata - bata, "A..ku h.aa..n.ya ttt..aak punya ide dan sss..uara mengapa perr..em.puan ss.ecantik kamu bisa ada di tempat ini. 

Sekarang suasana begitu mencair, bahkan terlihat begitu mengalir. Tanpa hirarki yang mengharuskan Aku selalu bicara duluan atau sebaliknya. Kami menimpali satu sama lain, dia memberikan jokes Aku tertawa juga sebaliknya. Ketika dia bercerita, Aku sangat fokus mendengarkan semua yang terkandung di dalamnya. Termasuk gestur tubuhnya yang membuatku hanyut sedalam - dalamnya hanya dalam hitungan menit. Sesaat kemudian dia memintaku bercerita. Aku bercerita mengenai beberapa penggalan hidupku, mengapa Aku bisa ada di kota ini, apa pekerjaanku, apa hobiku dan banyak hal lainnya. Begitu lepas semua kata dari mulutku tertata rapi dalam percampuran kalimat panjang dan pendek. Hingga Aku tak sadar ternyata perempuan ini menitikkan air mata. Dia menangis. Apa yang sudah ku katakan? Apa Aku sudah menyinggung bagian pahit masa lalunya? atau Aku tak sadar membangkitkan ketakutannya? Aku mengumpat diriku sendiri!!


RGB Digital Imaging, Kemang
12.11 WIB

Labels

ARIFA (1) Coretan (10) Emosi Jiwa (10) Fiksi (2) Minggu Pagi (4) Musik (10) Uncategorized (6)